BERITA TERKINI
Dubes Iran Temui Jusuf Kalla, Menyusuri Jejak Diplomasi Kemanusiaan Indonesia-Iran

Dubes Iran Temui Jusuf Kalla, Menyusuri Jejak Diplomasi Kemanusiaan Indonesia-Iran

Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Valiollah Mohammadi, mengunjungi kediaman mantan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Selasa, 3 Maret 2026. Kunjungan itu menjadi sorotan di tengah perhatian dunia terhadap Iran setelah negara tersebut mengalami serangan militer dari Amerika Serikat dan Israel.

Usai bertemu Jusuf Kalla, Mohammadi melanjutkan agenda diplomatik dengan menemui pejabat resmi Indonesia. Kedutaan Besar Iran di Jakarta juga menggelar open house yang memberi kesempatan kepada warga untuk menyampaikan duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang disebut gugur akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pernyataannya yang dirilis pada hari yang sama, Jusuf Kalla menjelaskan bahwa pertemuan dengan Dubes Mohammadi tidak lepas dari hubungan yang telah terbangun lebih dari dua dekade. Ia menilai relasi tersebut bertumpu pada kepercayaan, sikap setara, dan prinsip kemanusiaan.

Jusuf Kalla menelusuri salah satu akar hubungan itu ke peristiwa gempa bumi Bam pada 2003, ketika ia menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat. Gempa berkekuatan 6,6 skala Richter mengguncang Kota Bam di Provinsi Kerman, Iran Tenggara, menewaskan sekitar 34.000 orang, melukai lebih dari 200.000 warga, dan membuat sekitar 75.000 orang kehilangan tempat tinggal. Sekitar 90 persen bangunan di kota tersebut dilaporkan hancur atau rusak parah.

Menurut Jusuf Kalla, ia mengusulkan kepada Presiden Megawati Soekarnoputri agar Indonesia mengirim bantuan kemanusiaan. Saat itu Indonesia baru pulih dari krisis ekonomi, namun pemerintah tetap memutuskan mengirim bantuan sebesar 200.000 dolar AS, obat-obatan senilai Rp 5 miliar, serta tim medis yang bertugas selama 30 hari di rumah sakit lapangan. Bantuan tersebut, meski disebut tidak besar, dinilai meninggalkan kesan solidaritas Indonesia bagi Iran.

Jusuf Kalla juga mengingat momen lain yang menurutnya memperkuat kepercayaan Iran kepada Indonesia, yakni ketika isu program nuklir Iran menjadi agenda di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Negara-negara Barat menuduh Teheran mengembangkan senjata pemusnah massal, tuduhan yang dibantah Iran. Ketegangan berujung pada pemungutan suara Resolusi DK PBB 1747 yang memuat sanksi, termasuk embargo senjata dan pembekuan aset.

Pada periode itu Indonesia menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Dari Jakarta, Jusuf Kalla yang menjabat Wakil Presiden RI memantau perkembangan dan berkomunikasi dengan delegasi Indonesia.

“Sewaktu Iran tersudut di PBB karena persoalan nuklir, akhirnya terjadi pemungutan suara apakah Iran akan dijatuhi sanksi atau tidak. Saya kawal betul dan saya perintahkan kepada Menteri Luar Negeri: Indonesia jangan ikut-ikutan memberi sanksi kepada Iran. Sikap paling maksimal adalah abstain,” ujar Jusuf Kalla.

Ia menyebut pendekatan itu sebagai prinsip “berpikir dengan hati”, yakni tidak semata menghitung untung-rugi politik, tetapi mencoba menempatkan diri pada posisi pihak lain. “Bayangkan kalau kita mengalami kesulitan dan tidak ada yang mau membela kita. Untuk itulah Indonesia mengambil posisi netral,” kata Jusuf Kalla.

Dalam pemungutan suara tersebut, Indonesia memilih abstain bersama Kuba, Libya, dan Angola, serta tidak mendukung sanksi terhadap Iran. Jusuf Kalla menilai keputusan itu berisiko secara politik karena berseberangan dengan keinginan Amerika Serikat dan sekutunya, namun dipandang sebagai wujud konsistensi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan sikap untuk tidak tunduk pada tekanan kekuatan mana pun.

Jusuf Kalla mengatakan sikap Indonesia membekas bagi Iran. Ia menceritakan pertemuannya dengan Presiden Iran saat itu, Mahmoud Ahmadinejad, di sebuah forum internasional. “Setelah itu saya bertemu Presiden Ahmadinejad. Dia langsung memeluk saya dengan mata berkaca-kaca sambil berkata, ‘Vice President, you are very my friend.’ Itu bukan basa-basi diplomatik, tetapi ungkapan tulus karena Iran merasa tidak ditinggalkan,” kata Jusuf Kalla.

Meski sanksi PBB tetap dijatuhkan, Jusuf Kalla menilai posisi Indonesia tercatat sebagai keputusan yang mempertahankan persahabatan sekaligus menunjukkan independensi diplomasi. Dalam konteks itu, ia memaknai kunjungan Dubes Mohammadi sebagai simbol kesinambungan relasi Indonesia-Iran yang dibangun melalui solidaritas kemanusiaan dan kepercayaan selama bertahun-tahun.