Di sela kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung terekam berfoto bersama dengan pose finger heart bersama seorang gadis muda asal Indonesia. Sosok tersebut adalah Nyoman Ayu Carmenita, atau Carmen, anggota grup K-Pop Hearts2Hearts (H2H).
Momen tersebut menjadi perhatian karena menghadirkan figur talenta muda Indonesia di panggung diplomasi. Kehadiran Carmen dinilai mencerminkan peran budaya populer sebagai penghubung antarmasyarakat Indonesia dan Korea Selatan.
Carmen lahir di Denpasar, Bali, pada 28 Maret 2006. Ia debut bersama Hearts2Hearts pada Februari 2025 di bawah SM Entertainment. Carmen disebut sebagai orang Indonesia pertama yang debut sebagai idol di agensi tersebut.
Latar belakang seni disebut melekat pada dirinya. Ibunya merupakan pemilik sanggar seni di Bali, sementara neneknya dikenal sebagai penari pada era Presiden Soekarno. Kemampuan vokal dan tari Carmen membuatnya cepat dikenal, termasuk di Korea, hingga ia mendapat julukan “Peri K-Pop” dari media lokal setempat.
Carmen hadir dalam jamuan makan siang kenegaraan di Blue House bersama kedua kepala negara. Kehadirannya disebut sebagai bentuk apresiasi atas perannya sebagai “jembatan budaya” dalam hubungan Indonesia–Korea Selatan, yang kerap dikaitkan dengan konsep soft power.
Undangan resmi tersebut juga dipandang sebagai penegasan bahwa kerja sama kedua negara tidak hanya berlangsung di sektor pertahanan atau ekonomi, tetapi juga melalui pertukaran talenta kreatif. Momen itu sekaligus menunjukkan pengakuan atas dampak positif yang dibawa figur budaya populer dalam mempererat hubungan antarwarga.
Perjalanan Carmen menuju industri hiburan Korea Selatan disebut melalui proses pelatihan yang ketat sejak usia 15 tahun. Ia harus beradaptasi dengan budaya dan bahasa baru di tengah persaingan industri yang kompetitif, sambil tetap mempertahankan identitas ke-Indonesiaannya.
Foto bersama dua kepala negara tersebut menempatkan Carmen sebagai salah satu wajah baru diplomasi muda, sekaligus menegaskan bagaimana musik dan seni dapat menjadi bahasa universal yang melampaui batas politik.

