Campaign Asia Pacific kembali merilis daftar Over 50 untuk tahun kedua. Dari total 37 nama yang terpilih di kawasan Asia Pasifik, dua di antaranya berasal dari Indonesia: Harry Dee David Jusana (Harry Deje), Chief Operating Officer Burson Indonesia, serta Yusdina Fibriyanti, Managing Director Innocean Indonesia.
Daftar ini disusun di tengah realitas industri pemasaran dan komunikasi yang kerap memandang usia 50 tahun ke atas sebagai batas tak tertulis. Melalui Over 50, Campaign menempatkan profesional senior sebagai figur yang dinilai masih berperan dalam membentuk arah industri, sekaligus merespons narasi ageism yang disebut masih hidup di sektor kreatif.
Seleksi tahun ini disebut lebih ketat dibanding edisi perdana. Dewan juri yang terdiri dari editor senior dan pimpinan Campaign memilih 37 penerima dari ratusan nominasi yang masuk. Mereka datang dari 11 pasar di Asia Pasifik: Australia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, dan Sri Lanka. Komposisi penerima juga disebut berimbang, dengan rasio gender sekitar tiga banding dua, meski jumlah pengajuan dari laki-laki dilaporkan lebih banyak dibanding perempuan.
Harry Deje: membangun kapabilitas komunikasi dari Indonesia
Harry Deje telah berkarier lebih dari tiga dekade di komunikasi pemasaran, melintasi berbagai disiplin, mulai dari above-the-line, below-the-line, media, digital, hingga corporate advisory. Ia kemudian menambatkan fokusnya pada public relations (PR), yang ia pandang sebagai benang merah dari berbagai bentuk komunikasi—bukan semata urusan siaran pers atau hubungan media, melainkan kerja jangka panjang membangun cerita, memelihara reputasi, dan menjaga pengaruh.
Dalam wawancara sebelumnya dengan Campaign Indonesia, Deje menyampaikan pandangannya bahwa praktisi PR perlu bergerak melampaui definisi klasik. Menurutnya, dalam beberapa tahun ke depan praktisi PR perlu memosisikan diri sebagai “orang komunikasi” yang mampu menyampaikan pesan melalui kanal apa pun yang relevan, termasuk gaming, messaging platform, hingga word of mouth.
Sebelum kembali ke Burson, Deje pernah menjabat Managing Director di Verve dan Chameleon, serta Business Director for Brands di Edelman Indonesia. Ia juga memiliki jejak karier di Burson-Marsteller, McCann Digital, Weber Shandwick/Golin, dan Publicis. Pengalaman tersebut membentuk keyakinannya bahwa institusi yang bertahan dibangun oleh tim kepemimpinan, sebuah pandangan yang ia bawa saat ikut mendirikan Burson Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya bersama tim manajemen, Burson Indonesia disebut tumbuh hampir delapan kali lipat dalam lima tahun. Agensi ini juga dikatakan bertahan melewati masa pandemi tanpa pemangkasan signifikan, serta pada 2025 mencatat pertumbuhan laba dua digit dengan 65% bisnis berasal dari klien lokal. Deje turut membentuk divisi planning, serta tim kreatif dan produksi internal—kapabilitas yang disebut jarang dimiliki agensi PR tradisional. Kantor Jakarta juga disebut menjadi pusat innovation and creativity untuk Burson di Asia Pasifik.
Di luar perusahaan, Deje tercatat sebagai salah satu pendiri PRCA Indonesia yang mewadahi agensi, praktisi independen, dan komunikator korporat. Ia juga dikenal memilih membangun karier di Indonesia meski disebut beberapa kali memiliki peluang di luar negeri. Dalam wawancara sebelumnya, Deje menilai keberhasilan dari pertumbuhan timnya, ketika anggota tim menyadari kemampuan baru yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Daniel Rembeth, mantan CEO The Jakarta Post, menggambarkan Deje sebagai sosok dengan konsistensi perkembangan dan keberanian berpikir. Ia juga menyebut Deje termasuk yang awal memperkenalkan pendekatan media sosial dan influencer engagement di Indonesia ketika pendekatan itu masih belum teruji.
Yusdina Fibriyanti: transformasi organisasi dan kepemimpinan yang inklusif
Yusdina Fibriyanti, yang akrab disapa Dina, membangun karier dengan keyakinan bahwa transformasi adalah disiplin. Setelah menyelesaikan studi International Business di University of Denver, ia memulai karier di sektor leasing, trading, dan perbankan, sebelum kemudian masuk ke komunikasi pemasaran.
Di MullenLowe, Dina memimpin transformasi kategori es krim Paddle Pop milik Unilever dengan menggeser pendekatan dari pemasaran berbasis kampanye menjadi platform branded entertainment berbasis cerita animasi panjang. Model tersebut disebut mendapat pengakuan di MEA Awards regional dan kemudian diadopsi di 33 pasar global dengan koordinasi dari Indonesia. Di Leo Burnett Indonesia, ia memimpin pembenahan akun McDonald's saat kepercayaan klien menurun, dengan menstabilkan tim dan mengatur ulang standar pengerjaan.
Dina bergabung dengan Innocean Indonesia pada akhir 2024, ketika agensi yang berdiri sejak 2020 itu disebut mengalami stagnasi bisnis, fragmentasi cara kerja, serta pergantian kepemimpinan beberapa kali dalam waktu singkat. Dalam wawancara sebelumnya dengan Campaign Indonesia, Dina menyebut prioritas awalnya adalah menstabilkan organisasi, memperkuat kedalaman kepemimpinan, menyelaraskan kembali kapabilitas, dan membangun ulang kepercayaan diri tim. Ia menjalankan transformasi paralel pada tiga area: SDM, sistem operasi, dan positioning strategis.
Hasilnya disebut terukur dalam waktu singkat. Innocean Indonesia dikatakan menambah klien di luar kategori otomotif, termasuk Duolingo, UOB Bank, dan Royal Canin, serta meraih kemenangan internasional pertama di The Drum Awards dan MMA Awards untuk kampanye Hyundai Indonesia. Untuk membangun budaya belajar, Dina juga melembagakan program Open Water—kompetisi kreatif internal menggunakan brief klien nyata—serta Leaders Sharing Sessions.
Dalam hal pengembangan talenta, Dina menerapkan pendekatan mentoring yang membalik hierarki tradisional. Saat di MullenLowe, ia mendirikan StarTroopers, forum yang memberi ruang bagi anggota tim junior memimpin diskusi sementara senior berperan sebagai coach. Menurut uraian dalam profilnya, format ini membantu mempercepat kepercayaan diri tim junior dan membuka jalur kepemimpinan baru.
Tae Hyun Kwan, APAC CEO Innocean Worldwide, menyebut Dina sebagai pemimpin bisnis yang transformatif sekaligus teladan kepemimpinan yang inklusif dan berlandaskan tujuan.
Menegaskan peran profesional senior
Masuknya dua nama dari Indonesia dalam daftar Campaign Over 50 2026 menandai pengakuan terhadap kontribusi profesional berusia 50 tahun ke atas di industri pemasaran dan komunikasi. Meski datang dari ranah yang berbeda—komunikasi/PR dan periklanan—keduanya digambarkan memiliki kesamaan dalam cara memaknai kerja jangka panjang: membangun institusi dan tim yang melampaui sosok individu, sekaligus memilih Indonesia sebagai panggung utama karier mereka.
Melalui daftar Over 50, Campaign menempatkan pengalaman, ketenangan strategis, dan kemampuan membangun tim sebagai nilai yang tetap relevan di industri yang bergerak cepat dan kerap merayakan kebaruan.