Di tengah krisis global yang memicu lonjakan harga energi serta gangguan pasokan pangan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tampil sebagai kekuatan baru dunia. Salah satu kunci yang disebut strategis adalah kelapa sawit, komoditas yang menempatkan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia.
Minyak sawit dinilai memiliki peran penting dalam rantai pasok global. Selain menjadi bahan baku pangan, sawit juga menopang berbagai industri dan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, termasuk biodiesel. Meski demikian, Indonesia disebut belum sepenuhnya percaya diri dalam memaksimalkan potensi tersebut.
Anggota DPR RI Komisi XII, Ir. H. Ateng Sutisna, menegaskan Indonesia seharusnya tidak ragu menghadapi tekanan krisis global karena memiliki sumber daya yang kuat. “Indonesia ini kaya sumber daya. Kita punya kelapa sawit, punya energi, dan itu bisa jadi kekuatan besar kalau dimaksimalkan,” ujarnya.
Pernyataan itu disampaikan Ateng Sutisna di Saung Panganteur Kahayang, Desa Salagedang, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Sabtu (11/04/2026). Ia menambahkan, pemanfaatan energi berbasis sumber daya dalam negeri, termasuk dari turunan kelapa sawit, perlu diperkuat sebagai bagian dari strategi kemandirian nasional.
“Pemanfaatan energi, termasuk listrik dari sumber daya kita sendiri dan turunan kelapa sawit, harus diperkuat. Ini soal kemandirian, bukan sekadar pilihan,” tegasnya.
Sementara itu, di tingkat daerah, sejumlah langkah konkret disebut mulai dilakukan untuk merespons dampak krisis global, terutama terkait stabilitas harga kebutuhan pokok. Ketua DPD PKS Majalengka yang juga Anggota DPRD Kabupaten Majalengka dari Fraksi PKS, Deden Hardian Narayanto, ST, menyatakan upaya menjaga daya beli masyarakat menjadi perhatian utama.
“Untuk di Majalengka sendiri, dalam menghadapi krisis global ini kami berupaya menjaga harga kebutuhan pokok melalui program pasar murah,” ujarnya.
Selain program tersebut, Deden juga menyampaikan dorongan agar pemerintah meningkatkan perhatian pada fasilitas pasar. Menurutnya, penguatan sarana pasar diperlukan untuk membantu distribusi dan menjaga stabilitas harga di masyarakat.
“Kami juga mengusulkan agar pemerintah lebih memperhatikan dan mendorong fasilitas pasar, sehingga distribusi dan stabilitas harga bisa lebih terjaga,” tambahnya.