BERITA TERKINI
DPR Minta Pemerintah Susun Strategi Jangka Panjang Hadapi Risiko Krisis Energi

DPR Minta Pemerintah Susun Strategi Jangka Panjang Hadapi Risiko Krisis Energi

Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim mengingatkan pemerintah agar menyiapkan strategi jangka panjang untuk menghadapi potensi krisis energi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, situasi geopolitik global dapat berdampak langsung pada stabilitas energi nasional, terutama karena ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Rivqy menilai serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak dan gas dunia.

Ia menyebut eskalasi konflik tersebut menjadi ujian bagi ketahanan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), khususnya yang bergerak di sektor minyak dan gas. Rivqy menekankan bahwa ketergantungan impor, terutama dari kawasan Timur Tengah, membuat Indonesia rentan terdampak gangguan rantai pasok global.

“Indonesia masih mengimpor sekitar 20 persen kebutuhan minyak dari Timur Tengah. Ini tentu menjadi tantangan serius jika konflik terus meningkat dan mengganggu rantai pasok global,” ujar Rivqy di Jakarta, Minggu (29/3).

Rivqy menegaskan kondisi ini harus menjadi batu ujian kesiapan BUMN energi dalam menghadapi krisis, termasuk kemampuan mitigasi risiko yang matang dan terukur. Ia juga meminta agar stabilitas pasokan dan harga energi tetap terjaga.

“Jangan sampai konflik AS-Iran merugikan rakyat Indonesia. Stabilitas pasokan dan harga energi harus tetap terjaga,” tegasnya.

Di sisi lain, Rivqy mengapresiasi langkah pemerintah, termasuk Pertamina, yang mulai melakukan diversifikasi sumber impor minyak sebagai langkah antisipatif menghadapi ketidakpastian global. Menurutnya, upaya mencari alternatif impor dari kawasan lain menunjukkan mitigasi yang mulai berjalan.

Namun, ia mengingatkan bahwa strategi jangka pendek perlu diimbangi langkah fundamental untuk memperkuat kemandirian energi nasional. Rivqy menilai optimalisasi potensi energi dalam negeri menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

“Indonesia memiliki sumber daya energi yang besar, baik migas maupun energi baru dan terbarukan. Ini harus dimaksimalkan secara serius dan konsisten agar kita tidak terus bergantung pada dinamika global,” jelasnya.

Rivqy juga menekankan pentingnya kehati-hatian pemerintah dalam menyikapi eskalasi politik dunia yang dinilai semakin tidak menentu.