BERITA TERKINI
DPR Awasi Transformasi Industri Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi Global

DPR Awasi Transformasi Industri Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Ketidakpastian ekonomi global terus memberi tekanan pada industri nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah, lonjakan harga energi, serta ketegangan geopolitik disebut menjadi ancaman serius bagi sektor industri di dalam negeri.

Merespons situasi tersebut, Komisi VII DPR RI melakukan pengawasan langsung terhadap implementasi transformasi industri hijau. Pengawasan ini dipandang sebagai salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan industri nasional di tengah krisis.

Salah satu lokasi yang menjadi fokus pengawasan adalah PT Japfa Comfeed Indonesia di Lampung. Anggota Komisi VII DPR RI Novita Hardini menyoroti dampak tekanan ekonomi global yang dirasakan industri besar, rumah tangga, hingga petani.

“Tekanan ekonomi hari ini nyata dirasakan masyarakat dan pelaku industri, kenaikan harga energi berdampak langsung pada biaya produksi. Tanpa transformasi yang serius dan berkelanjutan, industri nasional berisiko stagnan bahkan tergerus krisis global,” kata Novita dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.

Novita mengapresiasi langkah PT Japfa yang memanfaatkan energi surya sebagai sumber energi terbarukan. Namun, ia mengingatkan bahwa konsep industri hijau tidak boleh berhenti pada aspek simbolik atau sekadar mengganti sumber listrik.

Menurutnya, transformasi perlu menyentuh berbagai aspek, mulai dari manajemen limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, hingga dampak nyata bagi lingkungan sekitar. “Transformasi harus menyentuh manajemen limbah, perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, dan dampak nyata bagi lingkungan sekitar. Jika tidak, konsep hijau hanya menjadi jargon,” ujarnya.

Ia juga mendorong PT Japfa menjadi proyek percontohan industri hijau di sektor pangan dengan penerapan prinsip keberlanjutan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Selain isu lingkungan, Novita menekankan pentingnya keadilan ekonomi dalam ekosistem industri pangan. Ia menilai industri besar tidak boleh berjalan eksklusif dan perlu membuka ruang kolaborasi dengan UMKM serta usaha mikro.

Novita menyebut keberhasilan industri hijau dapat diukur dari kemampuan bertahan menghadapi krisis global, menjaga lingkungan, dan menciptakan keadilan ekonomi. “Kalau tidak berani berubah sekarang, industri nasional bukan hanya kalah bersaing, tapi bisa tergilas oleh krisis global,” ucapnya.