New York — Dolar AS menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB) seiring investor menata ulang ekspektasi kebijakan moneter global. Penguatan terjadi setelah Federal Reserve kembali menegaskan pandangannya bahwa inflasi tinggi bersifat sementara, sementara Bank of England (BoE) mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga, yang memicu pelemahan pound sterling.
Pasar merespons sinyal bank sentral
BoE menyatakan sebagian besar anggota pembuat kebijakan masih menilai “ada nilai dalam menunggu” lebih banyak data, khususnya dari pasar tenaga kerja. Keputusan tersebut membuat sterling tertekan karena pasar sebelumnya mengantisipasi langkah yang lebih agresif.
Sementara itu, The Fed pada Rabu (3/11) mengumumkan pengurangan pembelian aset bulanan sebesar 15 miliar dolar AS dari total 120 miliar dolar AS. Namun, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa bank sentral tidak terburu-buru untuk menaikkan biaya pinjaman.
Pada hari yang sama, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde juga meredam spekulasi pasar terkait kenaikan suku bunga paling cepat Oktober tahun depan dan mengatakan langkah tersebut sangat tidak mungkin terjadi pada 2022.
Dolar berbalik menguat, sterling jatuh
Edward Moya, analis pasar senior di Oanda, menilai pasar perlu mengatur ulang pandangan mengenai seberapa cepat bank-bank sentral utama akan mengetatkan kebijakan. Ia menambahkan, meski The Fed mungkin masih tertinggal dari beberapa bank sentral lain dalam menaikkan suku bunga, kebijakan akomodatifnya dinilai dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan memperkuat tema pemulihan Amerika Serikat dari pandemi, sehingga mendukung dolar.
Indeks dolar, yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, bergerak naik dari level terendah 93,80 tak lama setelah pengumuman The Fed pada Rabu (3/11), menjadi 94,327 pada Kamis (4/11) pukul 15.30 waktu setempat.
Kit Juckes, ahli strategi makro di Societe Generale, mengatakan pelaku pasar cenderung memanfaatkan pelemahan dolar sebagai peluang untuk membeli.
Di sisi lain, keputusan BoE mempertahankan suku bunga membuat sterling berbalik melemah setelah sebelumnya sempat memimpin penguatan terhadap dolar pasca-pernyataan The Fed. Sterling terakhir turun 1,33% ke 1,3502 dolar AS, level terendah terhadap greenback sejak 1 Oktober, meski BoE tetap mempertahankan prospek kebijakan moneter yang lebih ketat.
Kathy Lien, direktur pelaksana di BK Asset Management, menilai keputusan BoE lebih berdampak pada pasar valuta asing dibanding keputusan FOMC. Menurutnya, The Fed telah memberi waktu bagi pasar untuk memperhitungkan tapering melalui panduan ke depan, sementara BoE sebelumnya bersikap hawkish namun tidak mengonfirmasi ekspektasi hawkish tersebut pada keputusan kali ini.
Euro dan dolar Australia ikut melemah
Euro, dengan ECB dipandang masih jauh tertinggal dalam pengetatan dibanding bank sentral utama lainnya, sempat turun ke 1,1528 dolar AS, level terlemah sejak 12 Oktober. Euro terakhir melemah 0,57% menjadi 1,1546 dolar AS.
Dolar Australia turun 0,62% menjadi 0,7402 dolar AS, melanjutkan pelemahan sejak Selasa (2/11) ketika bank sentral Australia mengambil nada dovish dalam pertemuan utamanya.
Kripto melemah
Di pasar mata uang kripto, bitcoin turun 2,69% menjadi 61.236,61 dolar AS, setelah cenderung bergerak mendatar sejak menyentuh rekor tertinggi di atas 67.000 dolar AS bulan lalu.
Ether, kripto terbesar kedua, turun 2,75% menjadi 4.480,34 dolar AS setelah mencapai rekor tertinggi 4.670,81 dolar AS pada Rabu (3/11).
- Indeks dolar: 94,327
- Sterling: turun 1,33% ke 1,3502 dolar AS
- Euro: turun 0,57% ke 1,1546 dolar AS
- Dolar Australia: turun 0,62% ke 0,7402 dolar AS
- Bitcoin: turun 2,69% ke 61.236,61 dolar AS
- Ether: turun 2,75% ke 4.480,34 dolar AS

