Jakarta — Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat dan semakin diminati investor global. Di saat yang sama, emas yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven dilaporkan mulai kehilangan daya tarik, seiring perubahan preferensi investor di tengah dinamika ekonomi dunia.
Penguatan dolar AS antara lain didorong oleh kebijakan moneter ketat yang masih dipertahankan Federal Reserve. Bank sentral AS menjaga suku bunga pada level relatif tinggi untuk menekan inflasi, sehingga aset berbasis dolar dinilai menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan sejumlah instrumen lain.
Selain faktor suku bunga, kondisi ekonomi AS yang disebut relatif stabil dibandingkan beberapa negara maju turut memperkuat posisi dolar. Pertumbuhan ekonomi yang solid, pasar tenaga kerja yang kuat, serta konsumsi domestik yang tetap terjaga dinilai menambah keyakinan investor untuk menempatkan dana pada aset berdenominasi dolar.
Di sisi lain, emas menghadapi tekanan, salah satunya akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Dalam lingkungan suku bunga tinggi, investor cenderung melirik instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi, dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga atau dividen.
Sejumlah analis menilai hubungan terbalik antara dolar AS dan emas kembali terlihat. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung melemah karena menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain. Kondisi tersebut dinilai mempercepat perpindahan dana dari pasar emas ke instrumen berbasis dolar.
“Investor saat ini lebih mengutamakan likuiditas dan imbal hasil. Dengan suku bunga tinggi, dolar AS menjadi pilihan yang sangat rasional,” ujar seorang analis pasar keuangan global pada 23 Maret 2026.
Tren penguatan dolar diperkirakan berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah, terutama bila Federal Reserve tetap mempertahankan kebijakan moneter ketat dan belum memberi sinyal penurunan suku bunga. Ketidakpastian ekonomi global—mulai dari perlambatan ekonomi di sejumlah kawasan, ketegangan geopolitik, hingga fluktuasi pasar energi—juga disebut mendorong investor bersikap lebih hati-hati.
Dalam situasi tersebut, dolar AS dipandang sebagai aset lindung nilai yang lebih likuid dan fleksibel dibandingkan emas. Meski begitu, para ahli menilai emas belum sepenuhnya kehilangan perannya. Pada kondisi ekstrem seperti krisis keuangan global atau konflik geopolitik besar, emas masih memiliki reputasi sebagai penyimpan nilai jangka panjang dan kerap kembali diburu saat ketidakpastian mencapai puncak.
Karena itu, pelaku pasar diimbau tidak terburu-buru meninggalkan emas sepenuhnya. Diversifikasi portofolio tetap dianggap sebagai strategi yang bijak untuk menghadapi volatilitas pasar global, antara lain dengan mengombinasikan aset berbasis dolar, emas, dan instrumen lainnya guna menekan risiko sekaligus menjaga peluang imbal hasil.
Ke depan, pergerakan dolar AS dan emas diperkirakan dipengaruhi oleh arah kebijakan moneter, data ekonomi global, serta dinamika geopolitik. Investor diharapkan mencermati indikator-indikator tersebut agar dapat mengambil keputusan investasi secara lebih terukur.

