JAKARTA — Nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal perdagangan Rabu (25/2/2026). Dolar Amerika Serikat (AS) terpantau menguat dan membawa rupiah bergerak di kisaran Rp 16.800-an, menambah perhatian pelaku pasar terhadap arah pergerakan mata uang domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, dolar AS berada di posisi Rp 16.844. Angka ini naik 15 poin atau setara 0,09% dibandingkan posisi sebelumnya, menandakan tekanan terhadap rupiah masih berlanjut meski penguatannya relatif tipis.
Di saat rupiah melemah, pergerakan dolar AS terhadap mata uang lain menunjukkan arah yang bervariasi. Dolar AS tercatat melemah terhadap sejumlah mata uang utama, seperti dolar Australia, yen Jepang, dolar Singapura, yuan China, dan pound sterling. Namun, dolar AS justru menguat terhadap euro.
Secara rinci, dolar AS melemah 0,10% terhadap yen Jepang, turun 0,06% terhadap dolar Singapura, dan melemah 0,31% terhadap dolar Australia. Dolar AS juga terkoreksi 0,07% terhadap yuan China dan turun 0,16% terhadap pound sterling. Sementara itu, dolar AS menguat 0,10% terhadap euro.
Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan dinamika pasar valuta asing yang kompleks, sekaligus mengindikasikan bahwa penguatan dolar AS terhadap rupiah tidak semata didorong faktor global.
Sejumlah faktor disebut turut membayangi rupiah. Di tingkat global, ketidakpastian masih tinggi, antara lain terkait perang di Ukraina, tensi geopolitik, serta kekhawatiran resesi. Kondisi ini dapat mendorong investor memilih aset yang dinilai lebih aman, dan dolar AS kerap menjadi tujuan utama.
Dari sisi kebijakan moneter, The Fed juga masih dinilai cenderung hawkish, dengan peluang kenaikan suku bunga acuan untuk meredam inflasi di AS. Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik dolar AS karena imbal hasil yang ditawarkan menjadi lebih besar.
Sementara dari dalam negeri, kondisi ekonomi yang dinilai belum sepenuhnya pulih juga menjadi perhatian. Beberapa indikator yang disebut antara lain inflasi yang masih di atas target Bank Indonesia, defisit transaksi berjalan yang melebar, serta investasi asing langsung (FDI) yang belum optimal. Selain itu, pasar valuta asing juga rentan terhadap faktor spekulasi yang dapat memperbesar tekanan pada rupiah.
Pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada sejumlah sektor. Nilai tukar yang melemah dapat meningkatkan biaya impor dan mendorong inflasi, sekaligus menambah beban pembayaran utang luar negeri bagi pihak yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing. Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat meningkatkan daya saing ekspor, meski manfaatnya bergantung pada kemampuan eksportir memanfaatkan momentum.
Dalam kondisi seperti ini, Bank Indonesia memiliki sejumlah opsi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, termasuk intervensi di pasar valuta asing melalui penggunaan cadangan devisa, penyesuaian suku bunga acuan, serta koordinasi dengan pemerintah untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat kepercayaan investor.
Ke depan, arah rupiah masih dipengaruhi perkembangan global dan domestik. Perbaikan sentimen pasar, perubahan sikap The Fed, serta penguatan fundamental ekonomi dalam negeri dapat membuka peluang penguatan rupiah. Sebaliknya, meningkatnya ketidakpastian dapat membuat rupiah tetap rentan tertekan.

