Forum Wartawan Sidoarjo (Forwas) kembali menggelar agenda rutin Ramadan bertajuk Tadarus Jurnalistik. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk diskusi publik ini berlangsung di Balai Wartawan Sidoarjo, Jalan Ahmad Yani, Jumat (6/3) malam, dan diikuti berbagai kalangan, mulai dari jurnalis, pemerintah, pelaku usaha hingga mahasiswa.
Diskusi mengangkat tema “Arah Pembangunan Kabupaten Sidoarjo di Tengah Bayang-Bayang Krisis Global”. Forum tersebut menyoroti tantangan ekonomi daerah di tengah kondisi global dan nasional yang dinilai sedang tidak stabil.
Dua narasumber utama hadir dalam kegiatan ini, yakni Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sidoarjo M Ubaidillah Nurdin serta Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Sidoarjo Bahrul Amig. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif hingga larut malam.
Dalam pemaparannya, Ubaidillah menilai pelaku usaha perlu mampu membaca perubahan tren pasar, terutama yang dipengaruhi gaya hidup generasi muda seperti Gen Z dan Gen Alpha. Menurut dia, perubahan perilaku konsumen turut memengaruhi cara usaha bertahan di tengah persaingan.
“Pelaku usaha harus memahami perubahan perilaku konsumen. Sekarang banyak orang mencari tempat yang menarik secara visual atau instagramable, sehingga kreativitas menjadi kunci agar usaha tetap diminati pasar,” ujar Ubaidillah.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai salah satu langkah mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Ubaidillah menyebut pendampingan diperlukan agar UMKM mampu memperluas pasar hingga tingkat internasional.
“UMKM perlu didampingi agar mampu menembus pasar internasional. Kami bersama Disperindag telah membantu pelaku UMKM hingga produknya bisa menembus pasar luar negeri,” katanya.
Ubaidillah menambahkan, sejumlah produk lokal Sidoarjo disebut telah berhasil diekspor, mulai dari komoditas kopi hingga produk olahan seperti kerupuk. Menurutnya, pendampingan dilakukan tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM dengan pembeli dari luar negeri hingga proses ekspor terwujud.
“Kami tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM dengan buyer luar negeri. Pendampingan dilakukan dari proses awal hingga produk benar-benar berhasil diekspor,” tambahnya.
Sementara itu, Bahrul Amig menekankan perlunya penyesuaian pola kerja birokrasi agar lebih adaptif terhadap perkembangan dunia usaha. Ia menilai pemerintah perlu menyeimbangkan regulasi dengan ruang inovasi agar pelaku usaha dapat berkembang.
“Pemerintah tidak bisa lagi bekerja dengan cara lama yang terlalu kaku. Dibutuhkan keseimbangan antara regulasi dengan ruang inovasi agar dunia usaha dapat berkembang,” kata Amig.
Amig juga mendorong perubahan pola pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan melibatkan pelaku usaha yang sudah berhasil sebagai mentor bagi pelaku usaha baru. Menurutnya, pendampingan akan lebih efektif jika dilakukan oleh pengusaha yang telah berpengalaman.
“Pendampingan akan lebih efektif jika pengusaha yang sudah sukses ikut membimbing pelaku UMKM yang masih merintis, mulai dari produksi hingga strategi pemasaran,” tegasnya.
Selain paparan narasumber, forum turut diwarnai masukan dari peserta. Sejumlah mahasiswa dan pelaku usaha menyampaikan kritik terkait akses fasilitas pemerintah yang dinilai masih terbatas serta persoalan pajak yang dianggap memberatkan.
Peserta juga menyoroti program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah daerah. Sebagian menilai program tersebut belum maksimal karena hasilnya dinilai belum dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Melalui diskusi ini, Forwas berharap kolaborasi antara media, pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dapat semakin kuat. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan ekonomi daerah sekaligus mendorong pembangunan Sidoarjo yang lebih adaptif menghadapi tantangan global.

