BERITA TERKINI
Diskusi Publik Pandu ABI Kaltim di Balikpapan Soroti Konflik Timur Tengah dan Dampaknya bagi Indonesia

Diskusi Publik Pandu ABI Kaltim di Balikpapan Soroti Konflik Timur Tengah dan Dampaknya bagi Indonesia

Balikpapan, 16 Maret 2025 — Pandu Ahlulbait Indonesia (ABI) Kalimantan Timur menggelar diskusi publik yang membahas eskalasi konflik di Timur Tengah serta implikasinya bagi Indonesia. Kegiatan tersebut berlangsung di Miko Cafe, Balikpapan, pada Sabtu (15/3), dengan menghadirkan akademisi, praktisi, serta perwakilan organisasi mahasiswa.

Sekitar 50 peserta mengikuti forum ini. Peserta berasal dari mahasiswa berbagai organisasi internal kampus serta organisasi yang tergabung dalam kelompok Cipayung Kota Balikpapan. Diskusi berlangsung dinamis, dengan sejumlah pandangan kritis mengenai konflik global dan perang narasi yang berkembang di ruang publik.

Akademisi hukum Universitas Balikpapan, Bung Mangara, menekankan pentingnya posisi kedaulatan negara dalam praktik hubungan internasional. Ia menyampaikan bahwa prinsip kedaulatan memberi ruang bagi setiap negara untuk menentukan arah kebijakan luar negeri.

“Kebijakan kedaulatan negara lebih tinggi daripada hukum internasional, sehingga seluruh negara memiliki hak untuk menentukan kebijakan luar negerinya,” ujar Mangara dalam pemaparannya.

Selain itu, Mangara menyinggung konsep self defence atau pembelaan diri dalam hukum internasional. Menurutnya, prinsip tersebut kerap dijadikan dasar oleh negara yang menghadapi ancaman militer dari luar, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah.

Pemateri lainnya, Hari Darmanto, membahas fenomena Battle of Perception (BoP) yang dinilai semakin memengaruhi opini publik global. Ia menilai narasi konflik internasional tidak hanya berlangsung di medan militer, tetapi juga di ruang informasi dan media.

“Menanggapi BoP, jika Iran kalah Trump akan subversif, dan jika Iran menang Trump akan jauh lebih subversif,” kata Hari Darmanto saat menjelaskan kemungkinan dinamika politik global serta dampaknya terhadap persepsi publik di Indonesia.

Sesi diskusi kemudian berkembang dengan berbagai pertanyaan dari peserta terkait dinamika geopolitik Timur Tengah. Salah satu mahasiswa menyinggung polemik sikap figur publik Abu Janda yang ramai diperbincangkan di media sosial dalam konteks narasi konflik global.

Memasuki sesi penutup, Alamsyah menyampaikan refleksi mengenai perkembangan situasi geopolitik dunia yang dinilainya semakin memanas. Ia menyebut konflik di Timur Tengah menimbulkan dampak luas terhadap dinamika politik global.

“Di tengah umur bumi yang sudah tua ini, serta di tengah eskalasi perang di Timur Tengah, dan dengan melihat wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Syahid Ali Khamenei, hal itu menjadi penjelas tentang kubu mana yang benar dan kubu mana yang salah,” ujar Alamsyah dalam pernyataan penutup.

Penyelenggara menyatakan berharap diskusi ini dapat membuka ruang dialog yang lebih luas di kalangan mahasiswa dan masyarakat, sekaligus mendorong sikap kritis dalam menyikapi berbagai narasi global yang berkembang di ruang publik.