Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Washington DC pada Februari 2026 disebut diarahkan untuk memperkuat perdagangan bilateral Indonesia–Amerika Serikat melalui strategi yang digambarkan sebagai “diplomasi resiprokal” atau pertukaran kepentingan timbal balik. Dalam agenda tersebut, pemerintah menekankan upaya memperluas akses pasar bagi produk manufaktur Indonesia, sembari membuka kemudahan impor sejumlah komoditas pangan dari Amerika Serikat.
Salah satu isu utama yang diangkat adalah penurunan tarif ekspor produk tekstil Indonesia ke Amerika Serikat. Dalam naskah tersebut disebutkan, tarif yang sebelumnya berada pada kisaran 35% pada awal 2025 berhasil ditekan hingga 19% melalui lobi intensif. Penurunan tarif ini diklaim meningkatkan daya saing produk “made in Indonesia” dibanding beberapa negara pesaing, dengan perbandingan tarif Vietnam 20%, Thailand 36%, serta India 23–25%.
Penurunan tarif itu diposisikan sebagai faktor yang dapat mendorong peralihan pesanan dari pembeli di Amerika Serikat ke pabrik-pabrik Indonesia, khususnya di sentra industri seperti Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta wilayah yang disebutkan seperti Majalaya, Solo, dan Semarang. Naskah tersebut juga mengaitkan kebijakan ini dengan upaya menekan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tekstil, yang digambarkan sebagai industri padat karya.
Dalam kerangka resiprokal, penurunan tarif tekstil disebut disertai kemudahan akses bagi komoditas gandum dan kedelai dari Amerika Serikat. Kebijakan ini dipaparkan sebagai langkah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, termasuk komoditas yang berkaitan dengan konsumsi harian seperti tempe, tahu, dan roti.
Selain isu tarif, kunjungan tersebut juga memuat agenda peningkatan nilai perdagangan bilateral. Target yang disebutkan adalah menaikkan nilai perdagangan Indonesia–Amerika Serikat dari 45 miliar dolar AS menjadi sekitar 99 miliar dolar AS. Fokus peningkatan ekspor diarahkan pada produk seperti sepatu, tekstil, garmen, dan elektronik agar lebih mudah masuk ke pasar Amerika Serikat.
Di bidang investasi dan penguatan industri, naskah tersebut menyebut keterlibatan Danantara yang dipimpin Rosan Roeslani untuk mendorong modernisasi industri tekstil, termasuk pembaruan mesin produksi menuju teknologi digital yang lebih efisien. Skema yang dipaparkan mencakup pembiayaan berbunga rendah, investasi langsung (direct investment) pada perusahaan berorientasi ekspor, fasilitas penjaminan ekspor, serta pelatihan tenaga kerja dan digitalisasi rantai pasok.
Presiden Prabowo dalam kunjungan itu juga disebut didampingi sejumlah pejabat, termasuk Bahlil Lahadalia (ESDM) dan Rosan Roeslani (Danantara), untuk mengawal komitmen ekonomi dan proyek skala besar. Agenda bisnis disebut mencakup kehadiran dalam Business Summit dan pertemuan dengan kalangan usaha Amerika Serikat, termasuk US Chamber of Commerce.
Di luar isu ekonomi, naskah tersebut menyebut Prabowo menghadiri forum Board of Peace pada 19 Februari 2026. Dalam forum itu, Indonesia ditegaskan mendukung kemerdekaan Palestina melalui two-state solution dan menuntut bantuan kemanusiaan ke Gaza tanpa hambatan. Disebutkan pula pernyataan bahwa Indonesia siap keluar dari forum apabila tidak ada kemajuan nyata yang sejalan dengan perjuangan kemerdekaan Palestina.
Secara keseluruhan, kunjungan Washington DC pada Februari 2026 dipaparkan sebagai upaya menggabungkan agenda perdagangan, investasi, dan posisi politik luar negeri. Strategi resiprokal ditekankan sebagai pendekatan untuk memperkuat daya saing ekspor sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan, sambil mempertahankan sikap Indonesia dalam isu kemanusiaan.

