BERITA TERKINI
Dino Patti Djalal Kecam Serangan AS ke Iran, Peringatkan Risiko Konflik Meluas dan Guncangan Ekonomi

Dino Patti Djalal Kecam Serangan AS ke Iran, Peringatkan Risiko Konflik Meluas dan Guncangan Ekonomi

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal melontarkan kritik keras terhadap kebijakan militer Amerika Serikat (AS) yang menyerang Iran dan menewaskan pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Dino menilai langkah tersebut berisiko mengguncang tatanan dunia dan menyeret Timur Tengah ke konflik yang lebih luas.

Dalam pesan video yang diunggah di akun Instagram-nya pada Jumat, 13 Maret 2026, mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI itu menyampaikan kekhawatiran atas apa yang ia sebut sebagai menguatnya nasionalisme Amerika yang agresif di bawah kepemimpinan Donald Trump.

“Kami khawatir dengan apa yang kami lihat sebagai nasionalisme Amerika yang macho dan agresif, yang cenderung merasa paling benar, kecanduan permainan berbahaya di ambang konflik, memiliki kecenderungan imperialis, serta mudah menggunakan kekuatan militer Amerika tanpa pertimbangan matang,” ujar Dino.

Dino menilai kecenderungan tersebut membuat AS semakin sering terlibat dalam konflik bersenjata dan bahkan berperan sebagai negara agresor dalam sejumlah krisis internasional.

Ia juga secara tegas mengutuk serangan militer AS dan Israel yang menewaskan Ali Khamenei. Menurut Dino, pembunuhan terhadap pemimpin negara lain tidak dapat dibenarkan dalam sistem hukum internasional.

“Ini bukan soal pro-Iran atau anti-Iran. Indonesia memiliki hubungan baik dengan Amerika Serikat maupun Iran. Namun, tidak ada pemimpin negara mana pun, sekuat apa pun, yang berhak merencanakan dan melaksanakan pembunuhan terhadap pemimpin negara lain,” kata Dino.

Ia menambahkan tindakan semacam itu, menurutnya, melanggar norma internasional, termasuk prinsip dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menekankan penghormatan terhadap kedaulatan negara. Dino memperingatkan, jika praktik pembunuhan pemimpin negara lain dianggap sah, hal tersebut dapat menciptakan preseden berbahaya dalam hubungan internasional.

“Jika tindakan militer langsung untuk membunuh pemimpin negara asing kini dianggap sebagai sesuatu yang sah, maka setiap negara dari 193 negara di dunia juga bisa menganggap tindakan serupa sebagai hal yang wajar,” ujarnya.

Dino menilai logika tersebut dapat membuka jalan menuju konflik global yang lebih besar dan berpotensi menyeret dunia ke perang besar seperti yang pernah terjadi pada abad ke-20.

Selain dampak geopolitik, Dino juga menyoroti risiko ekonomi global dari eskalasi konflik. Ia menyebut serangan AS dan Israel terhadap Iran telah memicu respons militer dari Teheran dan memperluas risiko konflik di kawasan Timur Tengah, dengan ketegangan yang disebutnya menyebar ke sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Oman, Kuwait, Irak, Yordania, Turki, Lebanon, Suriah, hingga Siprus.

“Ketidakstabilan dan potensi konflik baru kini membayangi kawasan Timur Tengah,” kata Dino.

Ia memperingatkan lonjakan harga minyak akibat konflik dapat menekan anggaran negara, meningkatkan inflasi, dan memperburuk kondisi ekonomi masyarakat, termasuk di Indonesia.

“Akibat kenaikan harga minyak, Indonesia akan menghadapi tekanan terhadap anggaran negara, peningkatan inflasi, kenaikan harga pangan, bertambahnya pengangguran, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

Menurut Dino, jika konflik berlangsung lama dan harga minyak terus melonjak, dunia berisiko memasuki resesi global yang dapat mendorong ratusan juta orang kembali jatuh ke dalam kemiskinan.

Dalam pernyataannya, Dino menyerukan kepada Trump agar menghentikan eskalasi dan tidak terpengaruh kepentingan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. “Hentikan kegilaan ini. Akhiri hasutan perang. Jangan mendorong dunia menuju jurang kegelapan. Hentikan serangan terhadap Iran, dan berhentilah dimanipulasi oleh Perdana Menteri Netanyahu untuk memenangkan pertempurannya,” tegasnya.

Dino juga menyinggung perlunya penyelesaian konflik Timur Tengah secara menyeluruh, termasuk melalui solusi dua negara untuk Palestina.

Konfrontasi terbuka antara Iran dan aliansi AS-Israel disebut meletus sejak Sabtu, 28 Februari 2026. Perang dipicu oleh serangan udara masif AS-Israel ke Teheran yang dilaporkan melumpuhkan struktur kekuasaan Iran dan menewaskan sejumlah tokoh kunci, termasuk Khamenei. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan sejumlah negara Teluk, yang meningkatkan ketegangan dan memicu kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah.