Tekanan global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok disebut belum menggoyahkan fondasi ekonomi Indonesia. Sejumlah indikator utama menunjukkan ketahanan, mulai dari surplus perdagangan yang berlanjut hingga inflasi yang tetap terjaga.
Data terbaru mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 kembali mencetak surplus US$3,32 miliar. Capaian ini memperpanjang tren surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak pertengahan 2020, dengan sektor nonmigas menjadi penopang utama melalui surplus US$5,21 miliar.
Ekspor nasional pada Maret 2026 tercatat sebesar US$22,53 miliar, dengan komoditas andalan antara lain minyak kelapa sawit (CPO), besi baja, dan batu bara. Sementara itu, impor mencapai US$19,21 miliar, yang disebut mencerminkan meningkatnya aktivitas produksi domestik, terutama dari masuknya bahan baku dan barang modal.
Dari sisi harga, inflasi April 2026 berada di level 2,42% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini dikaitkan dengan meredanya tekanan harga pangan serta kebijakan pemerintah yang menjaga harga energi tetap stabil. Sejumlah komoditas pangan dilaporkan mulai mengalami penurunan harga, seperti daging ayam, telur, dan cabai, seiring membaiknya pasokan di pasar.
Meski demikian, kenaikan harga BBM nonsubsidi dan avtur masih memberikan tekanan pada sektor transportasi.
Di sektor industri, aktivitas manufaktur mengalami perlambatan. Indeks PMI manufaktur turun ke 49,1 pada April 2026, yang menandakan fase kontraksi. Kondisi ini dipengaruhi lonjakan harga bahan baku global serta terganggunya distribusi akibat konflik di Timur Tengah. Namun, pasar domestik dinilai tetap menjadi penopang yang menjaga aktivitas industri tidak turun lebih dalam.
Di tengah tekanan tersebut, konsumsi masyarakat justru menunjukkan tren positif. Indeks Penjualan Riil tumbuh 2,4% secara tahunan pada Maret 2026, didorong peningkatan belanja pada sektor makanan, suku cadang, hingga rekreasi. Mobilitas selama libur Idulfitri juga ikut mendorong konsumsi energi.
Penyaluran BBM di sektor transportasi ritel tercatat melonjak 11,9%. Sementara sektor industri tumbuh lebih tinggi hingga 17,9%. Penjualan listrik meningkat 3,7%, yang mencerminkan aktivitas ekonomi yang terus bergerak.
Optimisme publik juga disebut tetap tinggi. Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 122,9, yang menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun prospek ke depan masih kuat.
Pemerintah menyatakan akan terus menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang responsif. “Pemerintah menegaskan akan terus menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan melalui kebijakan yang responsif,” kata Endang Larasati, Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, dalam keterangan tertulis, Selasa, 5 Mei 2026.
Penguatan sektor riil, perlindungan daya beli masyarakat, serta percepatan investasi disebut menjadi fokus di tengah dinamika global. Pemerintah juga mendorong langkah strategis seperti penyederhanaan regulasi dan percepatan proyek investasi melalui kanal debottlenecking.