BERITA TERKINI
Deloitte: Ledakan Pusat Data Asia Pasifik Diproyeksikan Dongkrak Konsumsi Listrik hingga 1.000 TWh

Deloitte: Ledakan Pusat Data Asia Pasifik Diproyeksikan Dongkrak Konsumsi Listrik hingga 1.000 TWh

Pertumbuhan pesat pusat data di kawasan Asia Pasifik diperkirakan akan mendorong kenaikan konsumsi listrik secara signifikan dalam dekade mendatang. Laporan Deloitte berjudul Powering Asia Pacific’s Data Centre Boom memproyeksikan konsumsi listrik pusat data di kawasan ini meningkat dari kurang dari 200 terawatt hour (TWh) pada 2025 menjadi lebih dari 1.000 TWh pada pertengahan 2030-an.

Deloitte memperkirakan angka tersebut setara dengan sekitar 2,3 persen dari total permintaan listrik regional pada 2030. Peningkatan kebutuhan energi ini sejalan dengan melonjaknya permintaan layanan digital, termasuk komputasi awan, kecerdasan buatan (AI), komunikasi digital, serta perdagangan elektronik yang semakin bergantung pada infrastruktur pusat data.

Di Asia Pasifik, Tiongkok, Jepang, dan Singapura disebut telah menjadi pusat utama pengembangan data center. Sementara itu, Australia, India, dan Malaysia mulai muncul sebagai pasar baru yang berkembang pesat seiring meningkatnya kebutuhan penyimpanan dan pemrosesan data.

Di sisi lain, ekspansi pusat data dinilai menambah tantangan bagi sistem energi. Deloitte memperkirakan total permintaan listrik di kawasan Asia Pasifik dapat meningkat hampir 50 persen antara 2024 hingga 2035, didorong oleh pertumbuhan ekonomi serta peralihan penggunaan energi dari bahan bakar fosil menuju listrik.

Deloitte Asia Pacific Sustainability Leader, Will Symons, menyatakan lonjakan AI, layanan cloud, dan konektivitas digital mendorong investasi besar-besaran pada pusat data yang membutuhkan energi dalam jumlah besar. Menurutnya, jaringan listrik di kawasan sudah berada di bawah tekanan untuk melakukan dekarbonisasi sekaligus menjaga keterjangkauan, ketahanan, dan keamanan energi.

“Di seluruh kawasan, jaringan listrik sudah berada di bawah tekanan untuk melakukan dekarbonisasi sekaligus menjaga keterjangkauan, ketahanan, dan keamanan energi. Menerapkan pendekatan power-first dengan energi bersih adalah langkah yang sangat penting untuk menggerakkan pusat data baru, mempercepat dekarbonisasi, dan menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Symons.

Symons menilai, tanpa perencanaan yang baik, pertumbuhan pusat data berpotensi memperlambat transisi energi, meningkatkan volatilitas harga listrik, serta menambah tekanan pada infrastruktur jaringan. Namun, ia juga menekankan pusat data dapat menjadi bagian dari solusi transisi energi apabila dikembangkan dengan strategi pengadaan listrik yang mengutamakan energi bersih.

Pendekatan tersebut antara lain mencakup pemanfaatan energi terbarukan, penyimpanan energi, serta skema pembelian listrik jangka panjang dari sumber rendah emisi untuk menjaga pasokan yang stabil dan berkelanjutan. Selain itu, pengembangan pusat data didorong mempertimbangkan lokasi yang dekat dengan sumber energi terbarukan serta memanfaatkan teknologi pengelolaan beban listrik agar operasi dapat menyesuaikan dengan ketersediaan energi bersih.

Melalui strategi itu, Deloitte menilai pertumbuhan sektor pusat data di Asia Pasifik dapat berjalan seiring dengan upaya dekarbonisasi sistem energi regional.