BERITA TERKINI
Defisit Triwulan I 2026 Melebar, Pemerintah Tekankan Perubahan Pola Belanja APBN Lebih Cepat dan Terukur

Defisit Triwulan I 2026 Melebar, Pemerintah Tekankan Perubahan Pola Belanja APBN Lebih Cepat dan Terukur

Perekonomian global pada awal 2026 diwarnai dinamika dan ketidakpastian. Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah disebut berdampak pada stabilitas ekonomi dunia, memicu volatilitas pasar, memperburuk sentimen, serta meningkatkan risiko bagi banyak negara.

Salah satu dampak yang disorot adalah kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini dinilai mendorong inflasi, memberi tekanan pada nilai tukar dan suku bunga, serta menahan laju pertumbuhan. Di Indonesia, dampak yang paling terasa disebut berupa kenaikan harga minyak dan tekanan terhadap nilai tukar, yang pada gilirannya menambah tantangan bagi keberlanjutan fiskal dan menuntut langkah mitigasi.

Dalam situasi tersebut, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dipandang tidak hanya berfungsi sebagai instrumen belanja rutin, tetapi juga menjadi penyangga untuk meredam guncangan eksternal, menjaga kelangsungan pembangunan, dan melindungi kelompok rentan. Namun, pelaksanaannya ditekankan harus tetap terukur agar ruang fiskal terjaga.

Selama ini, pola belanja pemerintah dinilai kerap menghadapi persoalan klasik: realisasi belanja lambat di awal tahun dan menumpuk menjelang akhir tahun. Pola tersebut disebut menciptakan stimulus yang terlambat sehingga dampak penggandanya (multiplier effect) tidak optimal.

Pemerintah menyatakan 2026 menjadi awal perubahan pola belanja dari “slow-low” menuju “quick-high”, yakni percepatan belanja sejak awal tahun agar lebih responsif terhadap kebutuhan dan dorongan ekonomi dapat dirasakan lebih cepat serta merata pada setiap triwulan.

Pada triwulan I/2026, realisasi belanja negara dilaporkan tumbuh 31,4% secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 1,4% (YoY). Di sisi penerimaan, pendapatan negara tercatat tumbuh 10,5% (YoY), dengan penerimaan pajak meningkat 20,7% (YoY). Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu pendapatan negara masih mengalami kontraksi 17,5% dan penerimaan pajak terkontraksi 18,8%.

Seiring percepatan belanja tersebut, defisit pada triwulan I/2026 melebar menjadi 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), lebih besar dibanding 0,41% PDB pada periode yang sama tahun sebelumnya. Meski demikian, pelebaran defisit ini disebut tidak serta-merta berarti defisit APBN pada akhir 2026 akan menjadi tidak terkendali.

Pemerintah menegaskan perubahan dilakukan untuk membuat belanja lebih cepat di awal tahun dan lebih merata pada setiap triwulan, sambil tetap berada dalam koridor pengendalian defisit pada batas yang aman. Dengan pola baru itu, APBN diharapkan dapat “bekerja lebih cepat, lebih merata, dan tetap terukur”.

Sejumlah peran belanja negara yang ditargetkan menguat antara lain sebagai peredam guncangan (misalnya akibat gejolak global dan penanganan pascabencana), sebagai automatic stabilizer untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, serta sebagai perlindungan bagi masyarakat miskin dan rentan melalui program perlindungan sosial yang tepat waktu. Selain itu, belanja juga diarahkan untuk mendukung program pembangunan dan menjadi stimulus pertumbuhan agar aktivitas ekonomi bergerak lebih cepat.

Di sisi pengendalian kualitas belanja, pemerintah menyebut akan mempertajam dan melakukan refocusing pada pengeluaran pendukung yang tidak mendesak dan tidak prioritas, seperti perjalanan dinas, rapat, penggunaan jasa konsultan, serta pengadaan barang yang tidak terkait langsung dengan layanan utama. Kebijakan work from home dan penyederhanaan sejumlah program juga disebut sebagai bagian dari upaya memastikan percepatan belanja tetap disertai pengawasan dan pengendalian.

Dari sisi prospek, kebijakan percepatan belanja ini disebut menjadi salah satu penyangga aktivitas ekonomi pada triwulan I/2026, dengan pertumbuhan yang diperkirakan sekitar 5,5% atau lebih tinggi. Sepanjang 2026, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan berada pada kisaran 5,5%—6,0%, dengan konsumsi masyarakat tetap menjadi penggerak utama seiring dukungan perlindungan sosial dan stabilitas harga. Investasi juga diperkirakan dapat terus dipercepat dengan tetap terjaganya kepercayaan dunia usaha dan iklim ekonomi yang relatif kondusif.

Dengan kombinasi kebijakan yang responsif dan fondasi ekonomi yang dinilai solid, pemerintah menyatakan optimisme untuk menjaga momentum pertumbuhan yang lebih tinggi dengan defisit fiskal yang prudent dan berkelanjutan sepanjang tahun.