BERITA TERKINI
CORE: Eskalasi Konflik Iran Berisiko Ganggu Pasokan Energi, Defisit APBN 2026 Bisa Capai 3,55%

CORE: Eskalasi Konflik Iran Berisiko Ganggu Pasokan Energi, Defisit APBN 2026 Bisa Capai 3,55%

Eskalasi konflik yang melibatkan Iran dinilai berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi di kawasan Asia, terutama melalui gangguan rantai pasok energi global. Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai ketegangan di Timur Tengah dapat memicu tekanan inflasi sekaligus memperberat beban fiskal Indonesia.

Dalam analisis tim peneliti CORE Insight, sekitar 80% perdagangan minyak dan gas yang melintasi Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia. Karena itu, gangguan—atau bahkan penutupan—jalur strategis tersebut dinilai berisiko mendorong lonjakan harga energi global secara signifikan.

Yusuf Rendy menyebut dampaknya tidak berhenti pada kenaikan harga. Menurutnya, gangguan di Selat Hormuz juga dapat menghambat rantai pasok industri manufaktur serta membatasi akses perdagangan dengan kawasan Timur Tengah.

CORE Indonesia memproyeksikan skenario terburuk apabila harga minyak mentah menembus US$105 per barel dan nilai tukar rupiah melemah hingga Rp17.000 per dolar AS. Dalam kondisi itu, defisit APBN 2026 diperkirakan melampaui ambang batas legal dan mencapai 3,55% terhadap produk domestik bruto (PDB). Kombinasi kenaikan harga energi dan pelemahan rupiah dinilai akan memperbesar tekanan pada postur fiskal pemerintah.

Dari sisi perdagangan internasional, Indonesia juga disebut berpotensi kehilangan nilai ekspor sekitar US$606,8 juta atau setara Rp10,3 triliun ke kawasan Teluk Persia apabila konflik berlangsung hingga enam pekan.

Selain dampak langsung, CORE menilai ekonomi domestik juga berisiko terdampak efek rambatan melalui perlambatan ekonomi di sejumlah mitra dagang utama Indonesia, seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan, yang memiliki keterkaitan perdagangan kuat dengan Indonesia.

Untuk merespons risiko tersebut, CORE Indonesia merekomendasikan pemerintah mengambil langkah strategis agar rasio defisit anggaran tetap berada di bawah 3% dari PDB. Salah satu opsi yang disarankan adalah meninjau kembali alokasi anggaran untuk program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes Merah Putih, yang disebut secara keseluruhan menyerap anggaran hingga Rp418 triliun.

CORE juga menyarankan pemerintah mengoptimalkan Agreement on Reciprocal Tariffs (ART) guna memperoleh skema harga minyak mentah yang lebih kompetitif dari Amerika Serikat. Di sisi lain, diversifikasi pasokan minyak dari Afrika dan Rusia dinilai mendesak dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi domestik dengan biaya yang lebih efisien di tengah ketidakpastian global.