Aktivitas investasi properti di kawasan Asia Pasifik dinilai memasuki fase pemulihan yang lebih merata. Colliers menyebut membaiknya kejelasan pasar, melonggarnya kondisi keuangan, serta pulihnya kepercayaan investor mendorong kembalinya aliran modal ke berbagai pasar di kawasan tersebut.
Dalam laporan Asia Pacific Investment Insights March 2026, Colliers mencatat total volume investasi real estat di sembilan pasar utama Asia Pasifik mencapai USD162 miliar sepanjang 2025. Angka itu naik 8% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penguatan momentum terutama pada paruh kedua tahun ketika ekspektasi harga antara pembeli dan penjual semakin mendekat.
Pemulihan ini ditopang oleh menguatnya arus modal domestik yang tetap menjadi jangkar aktivitas investasi di sebagian besar pasar. Sementara itu, partisipasi lintas negara disebut tetap tangguh di sejumlah lokasi gerbang utama, termasuk Hong Kong, Singapura, dan India.
Managing Director, Capital Markets & Investment Services, Asia Pacific di Colliers, Theo Novak, mengatakan terjadi pergeseran sikap investor dari kehati-hatian menuju keyakinan. Menurut dia, investor kini memprioritaskan kejelasan, kualitas aset, serta pasar dengan kedalaman modal.
Sepanjang 2025, Korea Selatan, Jepang, dan Singapura tercatat memimpin volume investasi di antara sembilan pasar utama yang dianalisis, menunjukkan ketahanan pasar inti di kawasan. Dari sisi pertumbuhan tahunan, Singapura dan India mencatat kenaikan paling kuat masing-masing 35% dan 29%, seiring membaiknya fundamental pasar dan meluasnya peluang investasi.
Berdasarkan sektor, aset perkantoran masih menjadi pilar utama aktivitas investasi Asia Pasifik. Colliers menilai hal ini didukung permintaan penyewa yang berkelanjutan terhadap aset berkualitas tinggi di lokasi strategis, serta terbatasnya pasokan baru di kawasan CBD utama.
Sektor industri dan logistik membukukan investasi sebesar USD30,1 miliar dan menempati posisi kedua, meski mengalami moderasi dibandingkan aktivitas yang sangat kuat pada 2024. Sementara itu, investasi ritel meningkat 15% secara tahunan, sejalan dengan membaiknya kinerja aset dan sentimen konsumen yang kembali mengangkat kepercayaan investor. Colliers juga mencatat kelas aset alternatif menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat, didorong permintaan institusional yang kuat.
Novak menyebut aset perkantoran tetap menawarkan skala, transparansi, dan stabilitas pendapatan. Namun, ia melihat adanya percepatan minat ke aset alternatif serta ritel yang dipilih secara selektif, seiring investor menyeimbangkan portofolio dan mengejar diversifikasi.
Ke depan, Colliers memperkirakan momentum investasi Asia Pasifik akan menguat pada 2026. Proyeksi ini didasarkan pada stabilnya suku bunga dan inflasi, meningkatnya visibilitas terhadap kondisi pembiayaan, serta pemulihan bertahap arus modal lintas negara.
Colliers menilai modal domestik masih akan menjadi pendorong utama transaksi. Di saat yang sama, partisipasi investor luar negeri diperkirakan meluas seiring membaiknya selera risiko dan meningkatnya kepastian harga. Sektor inti seperti perkantoran diproyeksikan tetap memiliki kedalaman pasar, sementara aset alternatif dan ritel tertentu diperkirakan menarik tambahan alokasi modal karena investor mengejar ketahanan pendapatan dan pertumbuhan jangka panjang.
Meski tantangan disebut masih ada, Novak menilai arah pergerakan pasar semakin jelas menuju pemulihan yang lebih seimbang dan meluas di Asia Pasifik pada 2026.

