BERITA TERKINI
Colliers: Indonesia Jadi Pasar Data Center dengan Pertumbuhan Tertinggi di Asia Pasifik

Colliers: Indonesia Jadi Pasar Data Center dengan Pertumbuhan Tertinggi di Asia Pasifik

Indonesia disebut kian menonjol sebagai pasar pusat data (data center) dengan laju pertumbuhan paling tinggi di kawasan Asia Pasifik. Laporan strategis terbaru Colliers menilai lonjakan ini didorong permintaan yang nyata, sementara tingkat penetrasi kapasitas pusat data per kapita di Indonesia masih tergolong rendah.

Colliers menempatkan Indonesia sebagai pesaing serius di kawasan, dengan momentum yang dinilai berpotensi melampaui pasar yang lebih matang seperti Singapura dan Jepang dari sisi pertumbuhan. “Indonesia memulai dari base yang rendah namun melesat dengan momentum yang sulit dibendung,” kata Head of Research Colliers, Ferry Salanto, dikutip Kamis (1/1/2026).

Dalam proyeksi Colliers, kapasitas pusat data Indonesia diperkirakan meningkat 124 persen pada periode 2023 hingga 2026. Angka ini menjadi yang tertinggi di Asia Pasifik. Sebagai perbandingan, Malaysia diproyeksikan tumbuh 112 persen, Thailand 98 persen, India 89 persen, dan Filipina 14 persen. Sementara itu, pasar seperti Tokyo, Sydney, dan Singapura disebut tumbuh lebih lambat karena basis kapasitas yang sudah besar.

Jakarta dinilai berada pada posisi yang unik. Meski kapasitas Live IT (MW) masih di bawah kota-kota seperti Tokyo atau Seoul, Colliers mencatat adanya akselerasi proyek dari tahap perencanaan (pipeline) menuju konstruksi dan pengoperasian (commissioning). Kondisi ini membuat Jakarta tetap menarik bagi investor.

Menurut Colliers, salah satu pendorong utama adalah kapasitas pusat data per kapita Indonesia yang masih rendah dibanding negara tetangga. Di saat yang sama, terdapat kesenjangan antara permintaan dan pasokan seiring pertumbuhan ekonomi digital, mulai dari e-commerce, perbankan digital, hingga adopsi kecerdasan buatan (AI) yang meningkatkan kebutuhan penyimpanan data lokal. Indonesia juga disebut tengah mengejar ketertinggalan infrastruktur digital untuk mendukung visi kedaulatan data nasional.

Dari sisi biaya, Colliers mencatat konstruksi pusat data di Indonesia 38 persen lebih murah dibanding Singapura. Efisiensi ini disebut memperkuat daya tarik wilayah Jakarta dan Batam sebagai tujuan investasi infrastruktur digital.

Faktor lain yang disorot adalah dukungan kebijakan. Pemerintah disebut mendorong iklim investasi melalui regulasi dan insentif, termasuk fasilitas tax holiday, serta pengembangan koridor digital untuk menyederhanakan proses investasi dan operasional.

Untuk jangka menengah, kapasitas nasional Indonesia diperkirakan meningkat signifikan. Dari estimasi saat ini sekitar 700 MW, Colliers memproyeksikan kapasitas nasional dapat melampaui 2.000 MW pada 2030. Investasi dari perusahaan teknologi global (hyperscalers) seperti AWS, Google, dan Microsoft, serta adopsi AI, disebut menjadi motor pertumbuhan.

Colliers juga menilai ruang ekspansi masih besar jika melihat kapasitas per kapita. Indonesia saat ini tercatat sekitar 1,5 Watt per kapita, tertinggal dibanding Jepang yang sekitar 10 Watt dan Singapura yang lebih dari 100 Watt. Angka ini dipandang mengindikasikan potensi pertumbuhan jangka panjang yang masih luas.

Di sisi lain, arah pengembangan pusat data di Indonesia disebut mulai bergeser menuju konsep “green data center” sejalan dengan standar keberlanjutan global dan tuntutan Environmental, Social, and Governance (ESG). Tantangan yang muncul adalah kebutuhan daya listrik yang stabil untuk industri yang intensif energi, sekaligus tuntutan penggunaan energi terbarukan di tengah komitmen menuju Net Zero Emission. Colliers menilai investor yang mampu menawarkan solusi pusat data berbasis energi terbarukan akan memiliki keunggulan kompetitif di pasar Indonesia.

Hingga November 2025, sejumlah proyek berskala besar telah diumumkan dan mulai beroperasi, memperkuat koridor Cibitung–Cikarang serta Batam sebagai hub baru pusat data. Proyek-proyek tersebut antara lain JK6 Data Center (DCI Indonesia) di Cibitung dengan kapasitas proyeksi 119 MW, DAMAC Digital di Cikarang (144 MW), JC3 Campus (PDG) di Cikarang (120 MW), NeutraDC Nxera Batam di Kabil, Batam (54 MW), serta SMX01 (Korea Investment) di kawasan Jakarta CBD (60 MW).