Beijing menyatakan tidak akan mematuhi sanksi Amerika Serikat terhadap lima perusahaan China yang dituding membeli minyak Iran. Sikap ini menandai penolakan terbuka China terhadap upaya Washington menekan ekspor energi Teheran, sekaligus memperlihatkan bahwa rivalitas kedua negara kian merambah sektor energi.
Menurut laporan Bloomberg pada 3 Mei, Kementerian Perdagangan China menegaskan sanksi AS tersebut tidak akan diakui maupun dipatuhi. China menilai kebijakan itu melanggar hukum internasional dan menghambat aktivitas dagang normal perusahaan-perusahaan China dengan negara ketiga.
Selama ini China dikenal sebagai salah satu pembeli utama minyak Iran, terutama melalui kilang independen atau teapot refinery yang memanfaatkan harga diskon di tengah embargo Barat. Bagi China, pasokan minyak murah dari Iran dinilai penting untuk menekan biaya impor energi ketika pemulihan ekonomi domestik masih rapuh. Sementara bagi Iran, China menjadi saluran penting untuk menjaga arus devisa di tengah tekanan sanksi internasional.
Di sisi lain, Amerika Serikat memperluas tekanan. Pada Jumat lalu, AS kembali menjatuhkan sanksi kepada perusahaan China lain, Qingdao Haiye Oil Terminal, yang dituduh mengimpor puluhan juta barel minyak Iran dan menghasilkan miliaran dolar bagi Teheran.
Perkembangan ini berpotensi menambah ketidakpastian di pasar minyak global. Jika pengawasan AS semakin agresif dan distribusi minyak Iran terganggu, harga energi berisiko naik, terlebih ketika pasar masih dibayangi konflik di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak dapat menjadi sentimen negatif bagi negara-negara importir energi, termasuk banyak negara di Asia. Tekanan inflasi berisiko meningkat kembali pada saat sejumlah bank sentral tengah mempertimbangkan pelonggaran suku bunga.
Penolakan terbuka China juga mencerminkan bahwa efektivitas embargo sepihak dapat semakin terbatas. Selama masih ada pembeli besar seperti China, ruang gerak Iran untuk mempertahankan ekspor minyak dinilai tetap terbuka.
Isu ini muncul menjelang rencana kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China untuk bertemu Presiden Xi Jinping pada akhir bulan ini. Dengan latar hubungan kedua negara yang masih sarat friksi, sektor energi berpotensi menjadi salah satu topik sensitif dalam pertemuan tersebut.