Pemerintah China melalui badan perencana negara memerintahkan Meta dan startup kecerdasan buatan (AI) Manus untuk membatalkan kesepakatan akuisisi. Keputusan singkat itu diumumkan pada Senin (30/4/2026), menyusul penyelidikan yang telah diluncurkan Beijing sejak awal tahun ini.
Langkah tersebut muncul hanya beberapa pekan menjelang pertemuan puncak Presiden AS Donald Trump dengan Ketua Xi Jinping di Beijing. Dalam agenda KTT itu, kedua pemimpin dijadwalkan membahas isu-isu penting seperti perdagangan dan pengendalian teknologi.
Pemblokiran akuisisi ini dinilai menegaskan semakin lebarnya perpecahan dalam pengembangan teknologi global di tengah memanasnya ketegangan AS–China. Kondisi tersebut juga memperberat iklim investasi lintas batas, terutama di sektor-sektor yang dianggap kritis seperti AI dan semikonduktor.
Namun, pembatalan kesepakatan disebut tidak mudah dilakukan secara praktis. Setelah pengumuman akuisisi pada akhir Desember lalu, Meta telah mengintegrasikan Manus ke sistem internalnya, sementara sejumlah eksekutif startup itu juga telah bergabung dengan perusahaan teknologi asal AS tersebut.
Bagi Meta, keputusan Beijing berpotensi menjadi peluang yang terlewat untuk memperkuat kemampuan AI di tengah persaingan ketat dengan Google dan OpenAI.
Juru bicara Meta menyatakan kepada CNN bahwa transaksi tersebut “sepenuhnya sesuai hukum yang berlaku”. Meta juga menyampaikan harapan agar penyelidikan Beijing menghasilkan “resolusi yang tepat”, tanpa merinci langkah yang akan ditempuh.
Manus merupakan startup yang didirikan di China dan sempat menarik perhatian industri ketika meluncurkan agen AI otonom pada Maret tahun lalu, yakni sistem yang dapat bertindak mandiri atas nama pengguna. Keberhasilan Manus sempat dipandang sebagai kebanggaan nasional bagi sebagian warga China.
Namun, sentimen publik berubah setelah Manus memindahkan kantor pusat dan operasi utamanya ke Singapura, lalu diakuisisi Meta. Di media sosial China, muncul kritik yang menyebut langkah tersebut sebagai “pengkhianatan” dan “menjual aset ke AS”, yang diketahui menerapkan kontrol ekspor ketat untuk menghambat kemajuan AI China.
Beijing kemudian membuka penyelidikan atas akuisisi itu pada Januari, dengan tujuan mencegah startup China lain mengikuti langkah serupa. Langkah lanjutan pemerintah belum jelas, tetapi sejumlah analis menyatakan kekhawatiran bahwa respons keras dapat menekan semangat kewirausahaan global dan mendorong talenta untuk pindah ke luar negeri.
Bulan lalu, Financial Times melaporkan dua pendiri Manus, Xiao Hong dan Ji Yichao, dilarang keluar dari China selama penyelidikan berlangsung.