BEIJING — Pemerintah China mempercepat pengembangan industri hidrogen di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap keamanan energi, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah. Badan Energi Nasional China (NEA) menyatakan bahan bakar hidrogen sebagai barang strategis yang dinilai krusial untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Dalam pertemuan terbaru yang meninjau progres proyek percontohan hidrogen, NEA—sebagai regulator energi tertinggi di China—menyerukan perlunya inovasi yang lebih berani di sektor tersebut. NEA juga menegaskan hidrogen memiliki peran penting dalam revolusi energi global dan dipandang sebagai jalur utama dalam pembangunan sistem industri modern.
Dorongan terbaru dari NEA ini dinilai menandai babak baru bagi pengembangan industri hijau di China. Wakil Presiden Senior Envision Energy, Lou Yimin, mengatakan kebijakan tersebut menunjukkan pergeseran fokus dari tahap demonstrasi proyek percontohan menuju pengembangan skala besar.
Menurut Lou, penggunaan hidrogen secara luas di sektor hilir, khususnya industri berat, dianggap penting untuk mendorong penguatan rantai pasokan hulu. Ia menilai langkah itu dapat mempercepat peningkatan di seluruh rantai industri hidrogen.
Arah kebijakan ini sejalan dengan langkah yang telah ditempuh sebelumnya. Pada Desember 2025, NEA menetapkan 41 proyek dan sembilan wilayah sebagai pusat percontohan industri hidrogen. Proyek-proyek tersebut mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari produksi, transportasi, penyimpanan, hingga penerapan praktis.
Ambisi pengembangan hidrogen juga tercantum dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China. Dokumen itu menempatkan hidrogen sebagai industri masa depan dan menyerukan penggantian bahan bakar fosil secara aman serta teratur dengan sumber energi non-fosil.
Meski demikian, pengembangan hidrogen sebelumnya menghadapi hambatan biaya produksi yang tinggi. Catatan Bank of China yang dirilis pada Oktober 2025 menyebutkan produksi hidrogen pada masa lalu sangat bergantung pada harga bahan bakar fosil, sehingga biayanya lebih mahal dibandingkan pembakaran langsung atau penggunaan listrik.
Namun, kondisi tersebut disebut mulai berubah. Skala yang besar serta biaya energi terbarukan yang lebih rendah di China dinilai telah menekan biaya produksi hidrogen. Dengan posisi sebagai pemimpin global dalam energi surya dan angin, China dipandang memiliki keunggulan kompetitif dalam produksi hidrogen sebagai bahan bakar masa depan.