BEIJING — Pemerintah China menilai langkah Amerika Serikat yang disebut melakukan operasi militer dan blokade terarah terhadap pelabuhan Iran sebagai tindakan yang berisiko meningkatkan ketegangan di kawasan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan AS “meningkatkan operasi militer dan melakukan tindakan blokade yang ditargetkan, yang hanya akan memperburuk ketegangan dan merusak kesepakatan gencatan senjata yang sudah rapuh”.
Dalam konferensi pers, Guo juga menilai langkah tersebut “semakin membahayakan keamanan jalur melalui Selat” dan menyebutnya sebagai “perilaku berbahaya dan tidak bertanggung jawab”.
Di tengah perkembangan itu, Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani dilaporkan berbicara melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar, pembicaraan tersebut membahas perkembangan regional terbaru, termasuk isu terkait gencatan senjata yang disebut rapuh antara AS dan Iran, serta perlunya mengkonsolidasikannya dengan cara yang berkontribusi pada peningkatan keamanan dan stabilitas.
Kementerian itu menyatakan kedua pihak menegaskan perlunya memperkuat koordinasi dan mengintensifkan upaya bersama untuk menghentikan eskalasi, membuka jalan bagi penanganan akar krisis melalui cara damai dan dialog, hingga tercapainya kesepakatan akhir yang mengarah pada perdamaian yang berkelanjutan.