BERITA TERKINI
China Desak AS Jaga Stabilitas Hubungan, Sebut Taiwan Titik Risiko Terbesar

China Desak AS Jaga Stabilitas Hubungan, Sebut Taiwan Titik Risiko Terbesar

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Amerika Serikat untuk menjaga stabilitas hubungan kedua negara. Seruan itu disampaikan dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, beberapa pekan menjelang rencana kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing pada pertengahan Mei.

Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri China, Wang mengatakan Beijing dan Washington perlu “menjaga stabilitas yang telah susah payah diraih” dalam hubungan China-AS. Ia juga mendorong kedua pihak mempersiapkan interaksi tingkat tinggi, memperluas bidang kerja sama, serta mengelola perbedaan yang ada.

Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi adanya percakapan telepon tersebut dan menyebut pembicaraan dilakukan untuk mengatur perjalanan Trump, tanpa merinci lebih lanjut.

Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 14–15 Mei untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Kunjungan itu akan menjadi perjalanan pertama Trump ke China sejak kembali menjabat pada Januari 2025.

Dalam tahun pertama masa jabatan Trump, Washington dan Beijing sempat berselisih terkait perdagangan dan tarif hingga kemudian diumumkan gencatan senjata pada Oktober, setelah Trump dan Xi bertemu di Korea Selatan.

Meski hubungan kedua negara disebut “secara umum tetap stabil” di bawah kepemimpinan Trump dan Xi, Wang menekankan bahwa isu Taiwan menyangkut kepentingan inti China dan merupakan “titik risiko terbesar” dalam hubungan China-AS.

China mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang menunggu reunifikasi. Beijing juga mengkritik bantuan militer AS kepada Taiwan serta dukungan Washington terhadap Taipei di panggung internasional.

Dalam percakapan itu, Wang juga menyampaikan bahwa Amerika Serikat perlu menghormati komitmennya dan mengambil keputusan yang tepat guna membuka peluang baru bagi kerja sama bilateral serta berkontribusi dalam promosi perdamaian dunia.

Kedua menteri juga disebut bertukar pandangan mengenai situasi di Timur Tengah, meski pernyataan pihak China tidak memerinci isi pembahasannya. Pembicaraan ini berlangsung di tengah dinamika kawasan, setelah Trump bergabung dengan Israel dalam menyerang Iran dan di saat China dikenal sebagai mitra utama Teheran.