China menaruh perhatian pada perubahan sikap Jepang dalam isu Taiwan, seiring Tokyo meningkatkan langkah-langkah pertahanan yang dinilai lebih proaktif dibanding pendekatan sebelumnya. Perkembangan ini muncul ketika Jepang mulai mengembangkan kemampuan serangan jarak jauh, memperluas latihan militer bersama Amerika Serikat dan Australia, serta secara terbuka menyatakan bahwa keamanan Taiwan berkaitan langsung dengan kepentingannya.
Langkah-langkah tersebut dipandang sebagai pergeseran dari kebijakan yang cenderung pasif menuju strategi pencegahan yang lebih aktif. Dalam konteks meningkatnya ketegangan di kawasan, perubahan ini turut memengaruhi cara Beijing membaca posisi Jepang jika terjadi eskalasi di Selat Taiwan.
Kekhawatiran Beijing disebut semakin mengemuka terkait potensi konflik di Taiwan. Sejumlah pemimpin Jepang menyatakan bahwa serangan China terhadap Taiwan dapat memicu keterlibatan Jepang, meski tidak ada kewajiban formal melalui perjanjian. Posisi ini dinilai dapat mengubah isu Taiwan dari konflik bilateral menjadi potensi konflik multilateral. “Bagi Beijing, sikap Jepang ini mengubah Taiwan dari isu bilateral menjadi titik api multilateral,” kata Thondup.
Faktor lain yang menonjol adalah keberadaan militer AS di Jepang. Basis militer AS di Okinawa serta sistem pertahanan rudal yang diperluas menjadikan Jepang elemen penting dalam strategi Washington di Asia, terutama dalam skenario krisis yang melibatkan Taiwan.
Di sisi lain, Jepang juga memperkuat kerja sama dengan negara-negara seperti Australia dan India. Pengamat menilai pendekatan ini mencerminkan pola koalisi yang bertujuan menyeimbangkan kekuatan China di kawasan Indo-Pasifik.