Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke Iran berpotensi menimbulkan dampak berkepanjangan, termasuk penutupan Selat Hormuz yang merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Bhima menjelaskan Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang strategis, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Selat ini berada di antara Iran di utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di selatan.
Menurut Bhima, gangguan di Selat Hormuz dapat menghambat distribusi minyak global. Ia menyebut sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut, sehingga gangguan keamanan berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas energi global. “Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur tersebut. Sehingga, gangguan keamanan dapat berdampak luas terhadap stabilitas energi dunia,” kata Bhima kepada Inilah.com, Minggu (1/3/2026).
Ia juga menyoroti meningkatnya risiko logistik akibat konflik. Bhima mengatakan sebagian perusahaan asuransi menolak memberikan perlindungan bagi kapal yang melintas di wilayah konflik. “Kondisi ini menyebabkan kesulitan importasi minyak bagi banyak negara,” ujarnya.
Bhima memperingatkan, jika konflik berlangsung lama, gangguan distribusi energi dapat memicu tekanan ekonomi yang lebih luas, terutama bagi negara berkembang yang bergantung pada impor energi. Ia menilai ketergantungan tinggi terhadap impor membuat negara berkembang lebih rentan terhadap gejolak harga minyak global dan tekanan nilai tukar. “Jika konflik berlanjut dan meluas, bahkan banyak negara berkembang jatuh pada krisis ekonomi,” kata Bhima.
Dalam perkembangan terkait, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) atau Garda Revolusi Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia di selatan Iran. Penutupan tersebut disebut sebagai respons atas serangan AS dan Zionis Israel yang, menurut laporan, menewaskan pimpinan tinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
“Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran,” ungkap Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari, dikutip Minggu (1/3/2026).
Sementara itu, pejabat misi Angkatan Laut Uni Eropa Apsides menyampaikan bahwa informasi penutupan Selat Hormuz telah disebarkan melalui transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran, yang berisi larangan bagi kapal-kapal untuk melintasi kawasan tersebut.

