Perdagangan di kawasan Asia-Pasifik dibuka menguat, didorong turunnya harga minyak, pelemahan dolar AS, serta momentum yang terkait dengan tema kecerdasan buatan (AI). Analisis Cetro Trading Insight menilai sentimen risk-on mulai menyebar ke berbagai bursa regional, meski volatilitas masih terlihat pada sejumlah sektor.
Indeks utama di luar Jepang tercatat naik sekitar 2,3%. Penguatan dipimpin Korea Selatan, dengan Kospi melonjak 5,1% hingga menembus level 7.000 untuk pertama kalinya. Pemulihan sentimen juga terlihat pada Taiex Taiwan yang naik sekitar 1,55%, sementara Hang Seng Hong Kong menguat tipis.
Di pasar saham Korea Selatan, saham berkapitalisasi besar seperti Samsung Electronics menjadi pendorong reli dengan kenaikan dua digit setelah pasar Seoul kembali dibuka. Pergerakan ini menegaskan peran sektor teknologi sebagai penentu arah pasar Asia, di tengah arus modal ke aset berisiko yang masih kuat meski risiko volatilitas geopolitik dinilai dapat muncul sewaktu-waktu.
Di pasar valuta asing, indeks dolar turun sekitar 0,1% ke 98,236. Euro berada di level 1,1724 dolar AS, sedangkan poundsterling di 1,3577 dolar AS. Pergerakan tersebut mencerminkan perubahan sentimen investor terhadap risiko global yang cenderung lebih positif pada hari itu.
Dolar Australia diperdagangkan sekitar 0,7227 per dolar AS, naik sekitar 0,6%. Penguatan mata uang komoditas ini dikaitkan dengan meningkatnya selera risiko serta dampak dari gelombang kenaikan suku bunga berturut-turut sebelumnya.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun relatif stabil di 4,424%. Sementara itu, emas naik sekitar 1,2% menjadi USD 4.609,59 per ons, memperkuat posisinya sebagai aset pelindung nilai di tengah volatilitas pasar.
Dari sisi komoditas energi, harga minyak Brent turun sekitar 1,2% menjadi USD 108,51 per barel. Penurunan ini terjadi setelah pengumuman Presiden AS terkait penghentian sementara operasi pengawalan kapal melalui Selat Hormuz, perkembangan yang dinilai berpotensi memengaruhi dinamika pasokan minyak global dalam jangka menengah.
Secara keseluruhan, pasar menunjukkan campuran sinyal: sejumlah bursa regional mencatat rebound kuat, namun risiko geopolitik dan volatilitas imbal hasil tetap membayangi pergerakan mata uang dan obligasi. Dalam konteks ini, investor ritel maupun institusional disarankan menjaga manajemen risiko, mempertahankan diversifikasi, serta memantau korelasi antara indeks, mata uang, dan komoditas. Karena pembahasan bersifat makro dan tidak merinci instrumen tertentu, tidak ada sinyal perdagangan spesifik yang dapat ditetapkan pada saat ini.