BERITA TERKINI
Bursa Asia-Pasifik Dibuka Melemah, Kekhawatiran Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak Membayangi

Bursa Asia-Pasifik Dibuka Melemah, Kekhawatiran Konflik Timur Tengah dan Lonjakan Harga Minyak Membayangi

Bursa saham Asia-Pasifik dibuka melemah pada perdagangan Selasa (31/3/2026), seiring meningkatnya kecemasan investor terhadap konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda. Sentimen pasar turut tertekan oleh lonjakan harga minyak mentah global yang berlanjut dan menambah tekanan pada aset berisiko.

Ketegangan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan AS akan menghancurkan fasilitas pembangkit listrik, sumur minyak, hingga Pulau Kharg jika Selat Hormuz tetap ditutup dan tidak ada kesepakatan damai.

Pernyataan tersebut muncul ketika konflik Iran memasuki pekan kelima. Pemerintah AS juga disebut tengah mempertimbangkan pengiriman pasukan darat untuk menguasai Pulau Kharg, yang menjadi jalur utama ekspor minyak Iran.

Akibat konflik tersebut, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz—yang sebelumnya menjadi jalur sekitar 20% pengiriman minyak dunia—hampir terhenti sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

Di pasar komoditas, harga minyak terus menguat. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 3% dan sempat menembus USD 100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022.

Di kawasan Asia, sejumlah indeks utama mencatat penurunan pada awal perdagangan. Indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,12%. Di Jepang, Nikkei 225 melemah 0,84% dan Topix turun 0,57%. Tekanan lebih besar terlihat di Korea Selatan, dengan Kospi merosot 2,4% dan Kosdaq turun 0,77%. Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong juga mengindikasikan pelemahan dibandingkan penutupan sebelumnya.

Tekanan pasar tidak hanya terjadi di Asia. Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan sebelumnya. Indeks S&P 500 turun 0,39% ke 6.343,72 dan mencatat penurunan tiga hari beruntun. Nasdaq Composite terkoreksi 0,73% ke 20.794,64, sementara Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,11%.

Di tengah kondisi tersebut, Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan prospek inflasi masih terkendali meski harga energi meningkat. Ia juga menegaskan bank sentral belum perlu menaikkan suku bunga. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak tetap menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan bursa Asia dalam waktu dekat.