BERITA TERKINI
Bursa Asia Menguat, Investor Soroti Data Ekspor Jepang di Tengah Ketegangan Global

Bursa Asia Menguat, Investor Soroti Data Ekspor Jepang di Tengah Ketegangan Global

Bursa saham Asia dibuka menguat pada Rabu pagi, 18 Maret 2026, di tengah ketegangan geopolitik yang masih berlangsung dan harga energi yang tinggi. Meski risiko global membayangi, pelaku pasar terlihat lebih fokus pada data ekonomi dan arah kebijakan moneter, dengan Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan.

Di Korea Selatan, indeks Kospi melonjak sekitar 2,8 persen, sementara Kosdaq naik 1,66 persen. Kenaikan tersebut menjadikan pasar saham Korea Selatan sebagai motor utama reli Asia pada awal perdagangan.

Penguatan juga terlihat di Jepang. Nikkei 225 naik 1,38 persen dan Topix bertambah 0,95 persen, didorong data perdagangan yang melampaui ekspektasi. Ekspor Jepang pada Februari tumbuh 4,2 persen secara tahunan, lebih tinggi dari perkiraan pasar sebesar 1,6 persen. Meski melambat dibanding lonjakan 16,8 persen pada bulan sebelumnya, data ini dinilai menunjukkan sektor eksternal Jepang masih bertahan di tengah tekanan global.

Namun, pergerakan di kawasan tidak sepenuhnya seragam. Di Australia, indeks S&P/ASX 200 bergerak datar, mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati. Sementara itu, kontrak berjangka Hang Seng hanya naik tipis, mengindikasikan sebagian pelaku pasar masih menunggu arah yang lebih jelas.

Sentimen positif di Asia sejalan dengan penguatan Wall Street dalam dua hari berturut-turut. S&P 500 naik 0,3 persen dan Nasdaq-100 menguat 0,5 persen, memberikan pijakan bagi investor Asia untuk kembali masuk ke aset berisiko.

Di pasar obligasi Amerika Serikat, imbal hasil (yield) obligasi tenor 10 tahun turun ke kisaran 4,2 persen. Pergerakan ini mengindikasikan kekhawatiran inflasi mulai mereda, meski belum sepenuhnya hilang.

Meski pasar saham menguat, risiko geopolitik tetap menjadi perhatian, terutama terkait pasokan energi. Harga minyak Brent bertahan di sekitar USD103 per barel, mencerminkan tekanan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Serangan terhadap fasilitas energi di Uni Emirat Arab, kebakaran di kawasan industri minyak Fujairah, serta gangguan di sekitar Selat Hormuz disebut menjadi pengingat bahwa pasar masih berada di atas fondasi yang rapuh.

Dalam situasi tersebut, pelaku pasar tampak menyesuaikan cara pandang. Ketegangan geopolitik untuk sementara tidak selalu memicu aksi jual, melainkan diperlakukan sebagai risiko yang terus dipantau. Selama dampaknya belum meluas secara signifikan ke sistem keuangan, pasar cenderung mempertahankan bias penguatan.

Perhatian investor kini beralih ke kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Namun, pasar menilai yang lebih menentukan adalah nada komunikasi bank sentral tersebut. Sikap yang lebih lunak berpotensi memperpanjang penguatan aset berisiko, sedangkan sinyal yang lebih ketat dapat membalikkan arah pasar dengan cepat.

Di luar saham dan obligasi, sejumlah aset lain juga bergerak menarik. Harga emas bertahan di atas USD5.000 per ons setelah sempat melemah dalam beberapa sesi sebelumnya, menandakan permintaan lindung nilai masih terjaga. Sementara itu, Bitcoin bergerak mendekati USD75.000, mencerminkan minat investor yang tetap tinggi terhadap aset alternatif.