BERITA TERKINI
Bursa Asia Melemah di Tengah Kekhawatiran Eskalasi Konflik AS-Iran

Bursa Asia Melemah di Tengah Kekhawatiran Eskalasi Konflik AS-Iran

Bursa saham Asia Pasifik melemah pada Jumat (8/5/2026) di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik yang kembali memanas antara Iran dan Amerika Serikat (AS), meski kedua pihak berada dalam gencatan senjata yang dinilai rapuh.

Pada pekan ini, AS dan Iran dilaporkan terlibat baku tembak di Selat Hormuz. Kedua pihak saling mengklaim bahwa lawanlah yang memulai serangan.

Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tetap berlaku meski terjadi eskalasi. Ia menyebut serangan tersebut sebagai “sentuhan ringan”. Namun, dalam unggahan berikutnya di Truth Social, Trump mengklaim AS “benar-benar menghancurkan” pihak Iran yang terlibat dalam insiden tersebut.

Trump juga kembali menegaskan Iran berisiko menghadapi serangan lanjutan apabila tidak menyetujui kesepakatan nuklir. “Sama seperti kita mengalahkan mereka lagi hari ini, kita akan mengalahkan mereka jauh lebih keras, dan jauh lebih kejam, pada masa depan, jika mereka tidak menandatangani kesepakatan mereka, secepatnya,” tulis Trump.

Di pasar AS, kontrak berjangka S&P 500 dan kontrak berjangka Nasdaq 100 turun kurang dari 0,1%. Kontrak berjangka terkait Dow Jones Industrial Average melemah 12 poin atau kurang dari 0,1%.

Selama sesi reguler di Wall Street, indeks S&P 500 turun 0,38% dan ditutup di 7.337,11, seiring melemahnya saham Amazon dan Micron Technology. Indeks Nasdaq turun 0,13% dan ditutup di 25.806,20. Sementara itu, indeks Dow Jones terpangkas 313,62 poin atau 0,63% dan ditutup di 49.596,97.

Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya melanjutkan penguatan pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Data RTI menunjukkan IHSG ditutup naik 1,15% ke level 7.174,32, sementara indeks LQ45 bertambah 1,62% menjadi 693,78.

Dalam perdagangan tersebut, IHSG sempat bergerak pada rentang 7.107,17 hingga 7.207,07. Tercatat 361 saham menguat, 295 saham melemah, dan 160 saham tidak bergerak.

Total frekuensi perdagangan mencapai 2.675.914 kali dengan volume 42,4 miliar saham. Nilai transaksi harian tercatat Rp 23,2 triliun. Sementara kurs dolar AS terhadap rupiah berada di kisaran 17.323.

Dari 11 sektor saham, tiga sektor melemah. Sektor basic turun 1,62% dan menjadi koreksi terbesar, disusul sektor transportasi yang melemah 1,36% serta sektor energi turun 1,24%.

Adapun sektor yang mencatat penguatan terbesar adalah kesehatan yang naik 2,01%, diikuti sektor keuangan yang bertambah 1,98% dan sektor properti yang menguat 1,33%. Sektor infrastruktur naik 1,29% dan sektor industri menguat 1,03%. Sektor consumer nonsiklikal bertambah 0,81%, sektor siklikal naik 0,44%, dan sektor teknologi menguat 0,48%.