BERITA TERKINI
BPS: Ekonomi Triwulan I-2026 Tumbuh 5,61 Persen, Pertanian Kembali Jadi Penopang

BPS: Ekonomi Triwulan I-2026 Tumbuh 5,61 Persen, Pertanian Kembali Jadi Penopang

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, pelemahan harga komoditas dunia, serta ancaman perubahan iklim, sektor pertanian kembali menunjukkan perannya dalam perekonomian Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 4,87 persen.

Di balik capaian tersebut, BPS mencatat sektor pertanian tumbuh 4,97 persen pada triwulan I-2026. Pertanian juga menjadi salah satu dari lima kontributor utama produk domestik bruto (PDB) nasional dengan porsi 12,67 persen.

Dalam struktur ekonomi Indonesia, kontribusi itu dinilai signifikan karena sektor pertanian menyerap jutaan tenaga kerja dan menopang daya beli masyarakat di pedesaan.

Selama beberapa tahun, pertanian kerap dipandang sebagai sektor pelengkap dalam pembangunan, sementara perhatian lebih banyak diarahkan pada industri manufaktur, hilirisasi mineral, dan ekonomi digital. Namun, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan sektor pangan cenderung lebih tahan menghadapi gejolak.

Kondisi ini tercermin pada triwulan I-2026 ketika perekonomian global masih dibayangi perlambatan dan ketegangan geopolitik, tetapi pertanian Indonesia tetap tumbuh stabil mendekati 5 persen. Pertumbuhan tersebut menggambarkan aktivitas produksi pangan, hortikultura, peternakan, dan perkebunan yang berlangsung aktif di berbagai daerah.

Pertumbuhan pertanian juga dikaitkan dengan membaiknya produksi pangan nasional. Sejumlah daerah sentra padi disebut mengalami panen yang lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya seiring kondisi cuaca yang relatif lebih stabil pasca-El Niño. Produksi sawit juga mulai meningkat seiring perbaikan produktivitas dan harga global yang tetap kompetitif.

Selain itu, pertanian dinilai semakin terhubung dengan pertumbuhan sektor lain, seperti perdagangan, logistik, makanan-minuman, hingga industri pengolahan. BPS mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen dan sektor perdagangan tumbuh 6,26 persen pada triwulan I-2026.

Keterkaitan antarsektor tersebut mendorong efek berganda bagi perekonomian. Ketika produksi pertanian meningkat, aktivitas distribusi bergerak, konsumsi rumah tangga ikut terdorong, dan industri makanan-minuman berpotensi berkembang. Dalam konteks ini, pertanian tidak hanya menghasilkan bahan mentah, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai ekonomi nasional.