Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61% pada Triwulan I 2026 secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Capaian ini menunjukkan aktivitas ekonomi domestik masih berada dalam tren positif di tengah tantangan ekonomi global.
Dalam rentang Triwulan I 2025 hingga Triwulan I 2026, pertumbuhan ekonomi tercatat fluktuatif. Pada Triwulan I 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 4,87% (y-on-y) dan meningkat menjadi 5,12% pada periode berikutnya. Namun, pertumbuhan sempat melambat pada Triwulan III 2025 menjadi 5,04%, sebelum kembali menguat pada Triwulan IV 2025 sebesar 5,39% dan berlanjut hingga Triwulan I 2026.
Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan terjadi di hampir seluruh sektor. Dua sektor mencatat kontraksi, yakni pertambangan dan penggalian sebesar -2,14% serta pengadaan listrik dan gas sebesar -0,99%. Kontraksi pada keduanya dikaitkan dengan penurunan permintaan serta dinamika harga energi dunia.
Sektor dengan pertumbuhan paling tinggi adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14%, didorong meningkatnya mobilitas masyarakat serta aktivitas pelancong. Pertumbuhan juga ditopang oleh jasa lainnya (9,91%), transportasi dan pergudangan (8,04%), sektor lain-lain (6,32%), perdagangan dan reparasi mobil serta sepeda (6,26%), industri pengolahan (5,04%), serta pertanian, kehutanan, dan perikanan (4,97%). Gambaran ini menunjukkan aktivitas ekonomi yang semakin menyebar di berbagai sektor.
Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan terjadi pada seluruh komponen. Pengeluaran konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 21,81%, yang dikaitkan dengan peningkatan belanja negara terutama pada awal tahun anggaran. Komponen lain yang turut tumbuh adalah konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 6,28%, pembentukan modal tetap bruto 5,96%, konsumsi rumah tangga 5,52%, serta ekspor barang dan jasa 0,90%.
Komponen impor barang dan jasa, yang menjadi faktor pengurang dalam PDB menurut pengeluaran, juga tumbuh 7,18%. Kenaikan impor ini dapat mencerminkan meningkatnya kebutuhan untuk mendukung aktivitas produksi domestik.
Secara spasial, Pulau Jawa masih mendominasi struktur perekonomian nasional pada Triwulan I 2026 dengan kontribusi 57,24%. Kontribusi berikutnya berasal dari Sumatra 22,08%, Kalimantan 7,99%, Sulawesi 7,12%, Bali dan Nusa Tenggara 2,80%, serta Maluku dan Papua 2,77%.
Dari sisi pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), kelompok provinsi di Bali dan Nusa Tenggara mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 7,93% (y-on-y). Pertumbuhan ini disusul Sulawesi 6,95%, Jawa 5,79%, Sumatra 5,13%, Maluku dan Papua 4,46%, serta Kalimantan 4,08%. Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang relatif terjadi di berbagai kawasan, meski aktivitas ekonomi nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.