Sejumlah pimpinan perusahaan teknologi global dilaporkan kian cemas menyusul peringatan bahwa China berpotensi mengambil langkah terhadap Taiwan pada 2027. Skenario tersebut dikhawatirkan mengguncang pasokan chip canggih dunia dan memicu dampak ekonomi yang luas.
Laporan investigasi The New York Times menyebut pejabat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) dalam beberapa tahun terakhir telah memperingatkan eksekutif perusahaan seperti Apple, AMD, dan Qualcomm mengenai risiko geopolitik di sekitar Taiwan. Pulau itu saat ini memproduksi sekitar 90% chip komputer kelas atas dunia—komponen penting bagi smartphone, laptop, kendaraan, hingga pusat data untuk kecerdasan buatan (AI).
Menurut laporan tersebut, perusahaan seperti Apple, Nvidia, Advanced Micro Devices, dan Qualcomm menerima pengarahan tertutup mengenai kemungkinan blokade atau invasi China ke Taiwan. Beijing memandang Taiwan sebagai wilayah yang memisahkan diri dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Jika blokade terjadi, produksi chip di Taiwan berpotensi terhenti. Dampaknya diperkirakan meluas melampaui industri teknologi, termasuk ke sektor otomotif, kesehatan, dan infrastruktur telekomunikasi. Chip buatan Taiwan menjadi komponen inti berbagai perangkat modern, termasuk chip AI yang turut mendorong kenaikan nilai saham perusahaan teknologi dalam beberapa tahun terakhir.
Pusat dominasi industri semikonduktor Taiwan berada pada Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), produsen chip terbesar dan paling canggih di dunia. TSMC memproduksi chip untuk iPhone, kartu grafis Nvidia, hingga prosesor server AI. Ketergantungan besar pada satu wilayah geografis dinilai membuat rantai pasok global rentan terhadap gejolak geopolitik.
Pemerintahan Presiden Joe Biden berupaya menekan risiko itu melalui CHIPS Act, undang-undang yang mengalokasikan sekitar USD 50 miliar untuk membangun pabrik semikonduktor di AS. Sejumlah perusahaan mengumumkan investasi baru, termasuk TSMC yang membangun fasilitas di Arizona.
Namun, memindahkan produksi chip bukan perkara cepat. Pembangunan pabrik membutuhkan waktu bertahun-tahun dan biaya besar. Selain itu, chip yang diproduksi di AS diperkirakan lebih mahal hingga 25% dibanding produksi di Taiwan. Pertimbangan biaya dan margin keuntungan disebut membuat banyak perusahaan belum sepenuhnya mengalihkan pesanan mereka.
Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil pendekatan berbeda dengan mengancam tarif tinggi terhadap semikonduktor impor. Tekanan ini disebut mendorong komitmen tambahan investasi di AS, meski belum menghapus ketergantungan pada Taiwan dalam waktu dekat.
Peringatan mengenai 2027 merujuk pada analisis militer AS yang memperkirakan China ingin memiliki kesiapan untuk mengambil tindakan terhadap Taiwan pada tahun tersebut. Meski konflik belum pasti terjadi, risiko geopolitik dinilai semakin nyata, terutama setelah latihan militer China di sekitar perairan Taiwan.
Laporan industri bahkan memperkirakan gangguan total pasokan chip Taiwan dapat memangkas produk domestik bruto AS hingga 11%. Secara global, dampaknya dinilai berpotensi melampaui krisis finansial 2008.
Situasi ini menempatkan para pemimpin perusahaan teknologi pada dilema: menyeimbangkan kepentingan bisnis jangka pendek dengan risiko strategis jangka panjang. Ketergantungan pada Taiwan selama ini memberi efisiensi dan akses pada teknologi terbaik, tetapi peringatan 2027 menjadi pengingat bahwa stabilitas rantai pasok chip dunia tidak lagi bisa dianggap aman.
Jika ketegangan meningkat, dampaknya diperkirakan tidak hanya menimpa perusahaan teknologi, melainkan juga ekonomi global yang kian bergantung pada AI dan infrastruktur digital. Menjelang 2027, industri chip dunia pun berada dalam kewaspadaan tinggi.

