Polisi menyatakan terduga pelaku peledakan di SMA Negeri 72 Jakarta Utara tergabung dalam sebuah grup daring bernama True Crime Community (TCC). Temuan itu disebut mengindikasikan pelaku terpapar kekerasan berbasis peniruan atau memetic violence.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Eddy Hartono mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh aparat, terduga pelaku mengakses grup tersebut. “Kalau yang di SMAN 72 diketahui Densus [pelaku] juga mengakses grup bernama TCC, True Crime Community,” kata Eddy dalam keterangan pers di Mabes Polri, Selasa (18/11).
Eddy menjelaskan, kecenderungan yang terlihat pada kasus ini lebih mengarah pada peniruan ide atau perilaku kekerasan agar dianggap “hebat” dan menimbulkan rasa bangga. Menurutnya, pola ini berbeda dengan radikalisasi berbasis ideologi yang selama ini banyak ditemukan pada kelompok terorisme. Meski demikian, ia menilai fenomena tersebut tetap menjadi tren yang perlu diwaspadai.
Untuk mencegah kejadian serupa, Eddy menyebut BNPT bekerja sama dengan sejumlah lembaga, antara lain Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPA), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Kementerian Sosial, serta ahli psikologi. Langkah itu disebut bertujuan memetakan kondisi psikologis anak-anak yang terpapar, sebelum dilakukan rehabilitasi.
Dalam kesempatan yang sama, Juru Bicara Densus 88 Antiteror Ajun Komisaris Besar Mayndra Eka Wardhana menambahkan bahwa perekrutan secara daring yang menyasar anak-anak juga marak terjadi di jaringan terorisme. Densus 88 mencatat 17 anak ditangkap dan dibina akibat terpapar jaringan teror sepanjang 2011-2017. Namun, pada 2025 jumlahnya meningkat menjadi setidaknya 110 anak. “Artinya, kita bisa sama-sama menyimpulkan bahwa ada proses yang sangat masif sekali rekrutmen yang dilakukan melalui media daring,” ujar Mayndra.
Sebelumnya, Densus 88 mengungkap polisi menemukan tujuh bahan peledak yang dibawa terduga pelaku peledakan di SMAN 72. Dari jumlah itu, empat peledak meledak dan tiga lainnya tidak meledak. Empat peledak disebut ditemukan di dua lokasi di sekitar sekolah. Namun, polisi belum memerinci jenis bahan peledak tersebut dan masih mendalami kemungkinan keterkaitan terduga pelaku dengan jaringan teror.
Peristiwa ledakan terjadi pada Jumat (07/11) siang. Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Lodewijk Freidrich Paulus, mengatakan ledakan terjadi sekitar pukul 12.15 WIB di masjid atau musala di lingkungan sekolah. Ia menyebut ada dua kali ledakan, satu di bagian belakang dan satu di dekat pintu masjid atau musala.
Jumlah korban luka dilaporkan bertambah. Hingga Sabtu (08/11), korban mencapai 96 orang. Dari jumlah tersebut, 29 orang masih menjalani perawatan medis, sedangkan 67 orang lainnya sudah diperbolehkan pulang. Kepolisian menyebut data korban bersifat dinamis karena korban terus berdatangan ke fasilitas kesehatan dan dilakukan verifikasi ulang.
Terduga pelaku, yang merupakan pelajar sekolah tersebut, termasuk di antara korban yang terluka. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan luka yang dialami anak itu cukup berat, terutama di bagian kepala, sehingga memerlukan tindakan operasi. Setelah operasi, ia dirawat di unit perawatan intensif dengan penjagaan ketat petugas kepolisian. Budi menyebut terduga pelaku sudah sadar, namun masih harus menjalani perawatan medis bertahap.
Menurut Budi, terduga pelaku kini berstatus anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) sehingga memiliki hak-hak khusus, termasuk perlindungan identitas. Kepolisian menyatakan penyidik dan pihak rumah sakit berkoordinasi dengan lembaga perlindungan anak untuk memastikan penanganan sesuai prosedur hukum bagi anak di bawah umur. Meski demikian, proses penyelidikan tetap berjalan.
Densus 88 bersama Ditreskrimum Polda Metro Jaya masih mendalami motif peristiwa tersebut. Polisi juga menelusuri aktivitas media sosial terduga pelaku untuk mengetahui kemungkinan keterkaitan dengan grup atau komunitas daring tertentu.
Dalam penggeledahan rumah terduga pelaku, aparat menemukan serbuk yang diduga terkait pemicu ledakan. Namun, Budi menyatakan kepastian mengenai temuan tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan Puslabfor.
Di lokasi kejadian, polisi juga menemukan benda yang menyerupai senjata api. Namun, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan benda itu merupakan senjata mainan. Lodewijk juga mengatakan senjata tersebut bukan senjata sungguhan dan meminta masyarakat tetap tenang serta tidak terburu-buru menyimpulkan peristiwa ini sebagai bagian dari serangan terorisme.
Berdasarkan foto yang diperoleh Antara, terdapat dua benda mirip senjata api berupa senjata laras panjang dan pistol. Pada bagian laras tertulis “14 Words. For Agartha.” Sementara pada bagian badan obyek terdapat tulisan “Brenton Tarrant. Welcome to Hell.” Nama Brenton Tarrant merujuk pada pelaku penembakan massal di Christchurch, Selandia Baru, pada 15 Maret 2019.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyebut terduga pelaku berusia 17 tahun. Sementara itu, sejumlah media mengutip pernyataan beberapa pelajar SMAN 72 yang menyebut terduga pelaku kerap mengalami perundungan. Kepolisian belum menyampaikan kesimpulan terkait dugaan tersebut dan menyatakan pendalaman motif masih berlangsung.

