BlackRock memperingatkan potensi resesi global jika harga minyak bertahan tinggi dan ancaman dari Iran di Timur Tengah terus berlanjut, meski Amerika Serikat mengajukan proposal damai. Peringatan itu disampaikan di tengah situasi geopolitik yang dinilai masih rentan terhadap gangguan jalur perdagangan dan keamanan energi.
Dikutip dari laporan British Broadcasting Corporation (BBC), CEO BlackRock Larry Fink mengatakan bahwa sekalipun konflik mereda, risiko terhadap jalur perdagangan dan pasokan energi tetap tinggi apabila tidak ada tindakan terhadap manuver Iran di Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur vital pelayaran kapal tanker energi.
Fink menilai ancaman terhadap jalur tersebut dapat membuat harga minyak bertahan lama di kisaran di atas US$100 hingga US$150 per barel. Menurutnya, skenario itu akan membawa dampak besar terhadap perekonomian global.
Ia menegaskan lonjakan harga energi ke level tersebut hampir pasti mendorong dunia ke dalam resesi, mengingat efek berantai terhadap inflasi, daya beli masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi.
Harga minyak sendiri disebut bergerak sangat volatil sejak dimulainya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut mengganggu jalur distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz.
International Energy Agency (IEA) bahkan menyebut gangguan yang terjadi sebagai yang terbesar dalam sejarah, mencerminkan skala dampaknya terhadap pasar energi global.
Di sisi diplomasi, Amerika Serikat menyatakan pembicaraan negosiasi damai dengan Iran masih berlangsung. Washington menyebut pembicaraan tersebut produktif dan berpotensi berujung pada kesepakatan dengan Teheran.
Menurut laporan, proposal yang diajukan Presiden AS Donald Trump berisi 15 poin, dengan penekanan pada penghentian pengembangan teknologi nuklir Iran. Trump juga menginginkan Iran menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi, menghentikan program pengayaan uranium, membatasi program rudal balistik, serta menghentikan dukungan terhadap sekutu regional di Timur Tengah.
Iran dilaporkan masih meninjau proposal tersebut untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Teheran sempat merespons negatif dan menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington.
Laporan mengenai proses diplomasi sempat menekan harga minyak, namun tingginya ketidakpastian membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, terutama terkait potensi eskalasi lanjutan.
Peringatan BlackRock menegaskan bahwa dampak konflik tidak hanya terbatas pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi global dalam jangka panjang, terutama jika gangguan terhadap pasokan energi terus berlanjut.

