Jakarta — Harga Bitcoin (BTC) melemah tajam pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026, di tengah memburuknya sentimen pasar global. Tekanan datang dari rencana penerapan tarif global oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, yang mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto.
Pada pukul 13.13 WIB, BTC tercatat turun 4,04% dalam 24 jam terakhir ke level US$ 65.266 atau sekitar Rp 1,09 miliar (kurs Rp 16.807). Secara bulanan, Bitcoin terkoreksi 4,47%, menandakan sentimen pasar yang cenderung bearish.
Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi yang sudah berlangsung sejak Oktober 2025, setelah Bitcoin sempat menyentuh puncak US$ 125.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar. Dari level tersebut, BTC telah turun lebih dari 47%. Sepanjang 2026, Bitcoin tercatat melemah 26%, menempatkan tahun ini sebagai periode yang menantang bagi pelaku pasar.
Rencana tarif global 15% yang diumumkan Presiden Trump memicu kekhawatiran terhadap dampaknya pada ekonomi dunia. Pelaku pasar menilai kebijakan tersebut berpotensi menghambat perdagangan internasional, meningkatkan inflasi, dan menekan daya beli, yang dapat memicu aksi jual di berbagai instrumen keuangan, termasuk aset kripto.
Di saat yang sama, ketegangan AS-Iran menambah tekanan psikologis di pasar. Risiko meningkatnya konflik di Timur Tengah dinilai dapat mengguncang stabilitas ekonomi global dan mendorong perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman, seperti emas dan obligasi pemerintah, sehingga aset berisiko cenderung ditinggalkan.
Chief Operating Officer BTSE, Jeff Mei, menyebut penurunan BTC dipengaruhi aksi jual bersih investor sebagai respons atas pengumuman tarif AS. Menurutnya, pelaku pasar mengantisipasi potensi penurunan yang lebih dalam sehingga memilih mengurangi kepemilikan aset kripto. “Kami yakin bahwa kenaikan tarif yang tiba-tiba ini menyebabkan investor menjual aset kripto sebagai antisipasi penurunan pasar yang lebih serius,” ujar Jeff Mei.
Sementara itu, Kepala Riset 10x Research Markus Thielen menilai pelemahan juga dipicu rendahnya kepercayaan dan likuiditas di pasar kripto. Secara teknikal, ia menyebut BTC berada dalam fase bearish yang ditandai volume transaksi rendah dan ketidakpastian. Thielen memperkirakan Bitcoin berpotensi melemah hingga US$ 50.000 apabila sentimen negatif berlanjut.
Tekanan di Bitcoin turut menyeret altcoin. Ethereum (ETH) terkoreksi 5,25% dalam 24 jam terakhir ke US$ 1.872 atau sekitar Rp 31,45 juta. BNB turun 3,88% ke US$ 597,10 dari US$ 624,38, sedangkan Solana (SOL) melemah 7,78% ke US$ 78,52 dari US$ 85,28.
Memecoin juga ikut terkoreksi. Dogecoin (DOGE) turun 3,22% dalam 24 jam terakhir ke US$ 0,09398, menunjukkan pelemahan yang meluas di berbagai segmen pasar kripto.
Sepanjang 2026, pasar kripto dihadapkan pada sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga arah regulasi yang kian ketat. Di sisi lain, pasar juga masih menyimpan peluang yang ditopang oleh meningkatnya adopsi institusional, inovasi teknologi blockchain, serta potensi pemanfaatan kripto di berbagai sektor.
Pergerakan pada 23 Februari 2026 kembali menegaskan karakter kripto yang volatil dan sensitif terhadap sentimen global. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati, terutama ketika faktor makroekonomi dan geopolitik meningkatkan ketidakpastian.

