BERITA TERKINI
Bitcoin Jatuh di Bawah US$ 72.000, Sentimen Risk-Off dan Krisis Kepercayaan Tekan Pasar Kripto

Bitcoin Jatuh di Bawah US$ 72.000, Sentimen Risk-Off dan Krisis Kepercayaan Tekan Pasar Kripto

Harga Bitcoin kembali melemah setelah turun menembus level psikologis US$ 72.000 pada perdagangan Kamis (5/2/2026). Mata uang kripto terbesar di dunia itu sempat menyentuh US$ 71.540 di pasar Asia, yang disebut sebagai posisi terlemah dalam 15 bulan terakhir.

Pelemahan ini memperpanjang tren negatif Bitcoin, dengan akumulasi penurunan lebih dari 42% sejak mencapai puncak pada Oktober 2025. Penurunan terjadi bersamaan dengan meningkatnya aksi jual global pada aset berisiko, ketika investor cenderung menghindari volatilitas tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Level harga tersebut juga menandai titik terendah Bitcoin sejak periode setelah Pemilu Amerika Serikat pada November 2024, yang sebelumnya sempat memicu optimisme dan reli di pasar kripto.

Managing Partner Monarq Asset Management, Shiliang Tang, menilai tekanan kali ini tidak hanya berasal dari faktor internal aset kripto. Ia menyebut pasar global sedang memasuki fase krisis kepercayaan yang lebih luas, berbeda dengan tekanan sebelumnya yang dipicu likuidasi spesifik di sektor kripto.

Menurut Tang, pelemahan saat ini berkaitan dengan stres lintas aset, termasuk pasar saham dan instrumen keuangan berisiko lainnya. Sentimen negatif itu tercermin dari koreksi indeks Nasdaq 100 yang turun lebih dari 2%, diikuti pelemahan pada saham teknologi, perangkat lunak, hingga produsen semikonduktor yang sensitif terhadap kondisi suku bunga tinggi.

Dari sisi teknikal, tekanan berlanjut dinilai dapat membawa Bitcoin turun lebih dalam. Head of Business Development Efficient Frontier, Andrew Tu, menyatakan kegagalan bertahan di atas US$ 72.000 dapat membuka ruang koreksi berikutnya, dengan area US$ 68.000 disebut sebagai target yang realistis. Ia juga menilai tidak tertutup kemungkinan Bitcoin kembali menguji titik terendah sepanjang 2024 sebelum reli besar terjadi.

Ketidakpastian turut terlihat dari pergerakan dana pada ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Setelah mencatat arus masuk bersih sekitar US$ 562 juta pada awal pekan, arus dana berbalik menjadi penarikan sebesar US$ 272 juta pada hari berikutnya, mencerminkan sentimen investor yang belum stabil.

Dalam sepekan terakhir, total kapitalisasi pasar kripto juga dilaporkan menyusut sekitar US$ 460 miliar. Kondisi ini kembali memunculkan perdebatan mengenai status Bitcoin sebagai aset lindung nilai (safe haven). Meski kerap disebut sebagai “emas digital”, pergerakan Bitcoin yang sejalan dengan saham teknologi menunjukkan aset kripto masih sangat dipengaruhi perubahan selera risiko investor global.

Sejak awal 2025, pasar kripto bergerak dalam volatilitas ekstrem. Optimisme pasca-Pemilu AS dan adopsi institusional melalui ETF Bitcoin sempat menjadi pendorong, namun tekanan dari suku bunga tinggi, perlambatan ekonomi global, serta ketegangan geopolitik disebut terus membayangi. Situasi saat ini menjadi ujian bagi Bitcoin di tengah gejolak pasar dan krisis kepercayaan yang berkembang.