Sektor pusat data di kawasan Asia-Pasifik tengah mengalami pergeseran struktural pada biaya pengembangan seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) dan perubahan mendasar dalam cara fasilitas dirancang, didukung, serta dibangun. Perubahan kebutuhan teknis untuk pusat data siap AI ikut mendorong perbedaan biaya yang semakin mencolok antarpasar.
Panduan Biaya Konstruksi Pusat Data Asia Pasifik 2026 dari Cushman & Wakefield mencatat strategi pengadaan, biaya tenaga kerja, serta kendala rantai pasokan sebagai faktor utama yang memperlebar kesenjangan biaya. Dampaknya, perbedaan biaya konstruksi pusat data di kawasan tersebut dapat mencapai 2,4 kali lipat antarpasar.
Secara umum, biaya pembangunan pusat data di Asia-Pasifik saat ini berada pada kisaran US$7,9 juta hingga US$19,2 juta per MW. Jepang menjadi pasar termahal dengan US$19,2 juta/MW, disusul Singapura US$17,9 juta/MW. Sementara itu, Taiwan (China) tercatat sebagai pasar termurah dengan US$7,9 juta/MW.
Perbedaan biaya ini menunjukkan bahwa efisiensi investasi tidak lagi bergerak seragam di seluruh kawasan. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pemodelan biaya di tingkat pasar, terutama bagi pengembangan kampus pusat data skala besar yang dioptimalkan untuk kebutuhan AI.
Andrew Green, Kepala Pusat Data Asia Pasifik, menilai inflasi biaya konstruksi di kawasan ini semakin terpolarisasi. Sejumlah pasar mencatat kenaikan lebih dari 15%, sementara pasar lain tetap di bawah 5%.
Menurut Green, AI mengubah persyaratan fisik dan teknis pusat data, terutama pada infrastruktur struktural dan inti. Kepadatan daya yang lebih tinggi, sistem pendinginan yang lebih kompleks, serta kebutuhan struktur yang lebih kuat kian menjadi standar untuk fasilitas siap AI. Namun, dampak biayanya bervariasi, bergantung pada ketersediaan listrik, kapasitas tenaga kerja, dan kondisi penerapan di masing-masing lokasi.
Sejalan dengan itu, Pritesh Swamy, Kepala Riset dan Konsultasi untuk Grup Pusat Data di Asia Pasifik, menyatakan percepatan adopsi AI membuat dampaknya pada standar desain inti semakin terlihat. Fasilitas kini direncanakan untuk mendukung kapasitas komputasi berketumpatan lebih tinggi dengan solusi pendinginan yang lebih canggih, sehingga membentuk tolok ukur baru untuk pengembangan generasi berikutnya.
Swamy menilai AI mengubah desain pusat data lebih cepat daripada yang diprediksi siklus pengembangan tradisional. Akibatnya, sebagian pasar dapat menyesuaikan standar yang berubah cepat secara lebih efisien, sementara pasar lain menghadapi tekanan yang meningkat dari sisi biaya dan waktu penerapan.
Di pusat-pusat kota maju seperti Tokyo, Singapura, Sydney, Taipei, dan Johor, persaingan memperoleh lahan dengan akses listrik, keterbatasan kapasitas jaringan, serta waktu penyambungan yang panjang turut meningkatkan kompleksitas dan risiko pembangunan infrastruktur. Perubahan pada sistem struktur, kelistrikan, dan pendinginan juga menambah kompleksitas desain bangunan agar lebih tahan terhadap kebutuhan di masa depan.
Kondisi pengadaan input turut memengaruhi perbedaan biaya antarpasar. Laporan tersebut menyoroti kesenjangan harga antara pemasok Tiongkok dan non-Tiongkok yang semakin melebar, waktu pengiriman peralatan yang lebih panjang, serta tren meningkatnya metode konstruksi modular dan prefabrikasi yang dapat mengganggu anggaran proyek.
Sam Asher, Kepala Pengembangan Komersial dan Konsultasi untuk Layanan Proyek dan Pengembangan Asia-Pasifik, menyebut pengembang di kawasan ini menghadapi lingkungan implementasi yang semakin kompleks. Dalam konteks tersebut, ketersediaan listrik, keputusan pengadaan, dan kondisi lokasi menjadi faktor penentu kelayakan proyek, khususnya untuk proyek berfokus AI yang membutuhkan infrastruktur berketumpatan lebih tinggi dan jangka waktu penerapan lebih cepat.
Di tengah dinamika itu, Vietnam dinilai muncul sebagai pasar pertumbuhan yang kompetitif dari sisi biaya dan dipandang sebagai kandidat pusat data berikutnya di Asia-Pasifik. Biaya konstruksi di Vietnam berada pada kisaran US$5,7 juta hingga US$8,7 juta per MW, dengan rata-rata US$7,2 juta/MW. Inflasi biaya konstruksi tahunan juga dilaporkan relatif moderat, sekitar 3,8%.
Laporan tersebut menganalisis pasar Vietnam melalui dua kota utama, Hanoi dan Ho Chi Minh City. Saat ini, kapasitas yang beroperasi disebut sekitar 73MW, dengan tambahan 137MW yang diproyeksikan tersedia pada 2030.
Meski demikian, akses terhadap listrik menjadi faktor yang kian menentukan kelayakan proyek. Laporan itu memperkirakan kebutuhan waktu sekitar 2 hingga 3 tahun untuk membangun pembangkit listrik baru berkapasitas 100MW di klaster pasar utama Vietnam.
Direktur Senior sekaligus Kepala Konsultasi Strategis Cushman & Wakefield Vietnam, Le Hoang Lan Nhu Ngoc, menyatakan Vietnam masih berada pada tahap awal pengembangan pusat data, namun kondisi tersebut justru membuka potensi pasar jangka panjang. Ia menyoroti keunggulan biaya konstruksi yang relatif kompetitif serta permintaan yang terus meningkat dari komputasi awan, aplikasi AI, dan ekonomi digital yang berkembang pesat.
Ngoc menambahkan, ketika pengguna dan investor mulai mencari alternatif di luar ruang yang semakin terbatas di pusat-pusat kawasan, Vietnam dinilai memiliki ruang ekspansi, dengan catatan pengembang mampu mengatasi tantangan ketersediaan pasokan listrik dan pemilihan lokasi.
Selain itu, laporan Southeast Asia Outlook dari Cushman & Wakefield menyebut pusat data diproyeksikan menjadi kelas aset dengan volume investasi terbesar di pasar negara berkembang Asia Tenggara pada 2025. Dalam peta tersebut, Vietnam masih dinilai relatif baru dibanding negara lain di kawasan, sehingga dipandang memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang.