Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 akan lebih baik dibandingkan kuartal IV-2025. Proyeksi tersebut didorong oleh kuatnya permintaan domestik, di tengah situasi global yang masih dibayangi eskalasi perang di Timur Tengah.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 diperkirakan meningkat dan berada pada level yang cukup tinggi karena ditopang permintaan domestik yang kuat. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers usai pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Selasa (17/3/2026).
Menurut Perry, salah satu pendorong utama berasal dari konsumsi rumah tangga yang diperkirakan naik. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang perayaan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Ramadan dan Lebaran, serta perbaikan penghasilan pada beberapa kelompok pendapatan.
Ia menjelaskan, perbaikan penghasilan itu bersumber dari pemberian Tunjangan Hari Raya (THR), belanja sosial pemerintah, serta berbagai insentif pemerintah lainnya.
Selain konsumsi, BI juga memperkirakan investasi tetap berada pada kondisi yang baik. Perry menyebut, investasi didorong terutama oleh akselerasi investasi pemerintah, termasuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan investasi Danantara.
Meski demikian, BI mengingatkan perlunya mengantisipasi dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah. Perry menekankan, kondisi tersebut perlu direspons secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

