JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menilai momentum penguatan pertumbuhan ekonomi Indonesia perlu terus dijaga di tengah memanasnya situasi global akibat perang di Timur Tengah. BI mengingatkan, memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global berpotensi menimbulkan tekanan yang perlu diantisipasi dan direspons secara tepat agar arah pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga.
"Ke depan, dampak memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global akibat perang Timur Tengah perlu diantisipasi dan direspons secara tepat untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang digelar secara daring di Jakarta, Selasa (18/3).
Perry menyampaikan sinergi kebijakan antara pemerintah, bank sentral, dan para pemangku kepentingan lainnya akan terus diperkuat. Langkah ini diarahkan untuk menjaga permintaan domestik dan mendukung pertumbuhan ekonomi pada kisaran 4,9 hingga 5,7 persen.
BI juga menekankan pentingnya menjaga keyakinan pelaku ekonomi, baik rumah tangga maupun dunia usaha. Menurut Perry, kepercayaan tersebut dibutuhkan agar konsumsi rumah tangga dan investasi tetap terdorong.
Selain itu, Perry menyebut berbagai program pemerintah yang dinilai berdampak kuat terhadap pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja dapat terus dilanjutkan, dengan tetap menjaga ketahanan fiskal.
"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan melalui kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran yang bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas dengan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi," ujar Perry.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 akan meningkat dan tetap cukup tinggi, ditopang kuatnya permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga diproyeksikan naik seiring peningkatan kebutuhan masyarakat terkait perayaan hari besar keagamaan nasional (HKBN), serta perbaikan penghasilan pada sejumlah kelompok pendapatan yang bersumber dari pemberian tunjangan hari raya (THR), belanja sosial pemerintah, dan berbagai insentif lainnya.
Sementara itu, investasi diperkirakan tetap baik, terutama didorong akselerasi investasi pemerintah, termasuk koperasi desa/kelurahan merah putih (KDMP) dan investasi Danantara.

