Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) memproyeksikan perekonomian daerah pada 2026 akan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama ditopang oleh industri pengolahan dan lapangan usaha konstruksi.
Kepala BI Kantor Perwakilan Provinsi Kaltim Jajang Himawan mengatakan, ekonomi Kaltim pada 2025 tumbuh 4,51 persen. Sementara itu, pertumbuhan pada tahun ini diperkirakan lebih tinggi, berada pada kisaran 4,57–5,3 persen.
Meski demikian, BI mencatat sejumlah tantangan yang dapat memengaruhi kinerja ekonomi, antara lain permintaan global yang masih terbatas serta dinamika ekonomi global yang tinggi. Jajang juga menyinggung meningkatnya geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi menghambat ekspor berbagai komoditas dari Kaltim.
Di sisi lain, BI melihat sejumlah faktor yang berpeluang mendorong pertumbuhan pada 2026. Salah satunya berasal dari industri pengolahan tambang, seiring perkiraan kenaikan domestic market obligation (DMO) dari 25 persen menjadi 30 persen pada 2026.
Sejalan dengan itu, Perusahaan Listrik Negara (PLN) disebut terus memperkuat stok dan diperkirakan menyerap 140–150 juta ton pada tahun ini. Aktivitas tersebut dinilai dapat menimbulkan efek domino yang luas terhadap pertumbuhan ekonomi, baik pada skala makro maupun mikro.
Dari sisi industri pengolahan lainnya, terdapat rencana penambahan kapasitas refinery migas sekitar 50 barel per hari dibandingkan 2025 hingga triwulan II 2026. Selain itu, pengembangan eksplorasi sumur gas sejak akhir 2025 juga dinilai berpotensi meningkatkan produksi industri komoditas turunan pada tahun ini.
Untuk sektor konstruksi, BI menyoroti berlanjutnya sejumlah proyek besar di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), termasuk pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif. Proyek tersebut diperkirakan membutuhkan anggaran 6 persen (year on year/yoy) lebih tinggi dibandingkan anggaran 2025.
Selain proyek pemerintah, BI juga menilai investasi swasta bernilai besar, termasuk di kawasan industri dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang difokuskan pada hilirisasi sumber daya alam seperti sawit, batu bara, dan gas, serta pengembangan energi terbarukan, akan turut menopang kinerja sektor konstruksi sepanjang 2026.

