BERITA TERKINI
BI dan Pemerintah Nilai Tekanan Rupiah Bersifat Sementara, Siapkan Diversifikasi Pembiayaan lewat Panda Bonds

BI dan Pemerintah Nilai Tekanan Rupiah Bersifat Sementara, Siapkan Diversifikasi Pembiayaan lewat Panda Bonds

Jakarta — Di tengah volatilitas pasar keuangan global, Bank Indonesia (BI) dan pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Meski rupiah mengalami tekanan dalam jangka pendek, otoritas moneter dan fiskal menyampaikan keyakinan nilai tukar akan kembali ke level yang dinilai wajar.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor global dan pola musiman domestik. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk blokade Selat Hormuz oleh Iran, memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Kami mencatat adanya peningkatan signifikan pada yield US Treasury tenor 10 tahun yang kini menyentuh 4,47%, dibarengi dengan keperkasaan indeks dolar AS,” ujar Perry di Istana Merdeka, Selasa (5/5/2026).

Selain faktor global, Perry menyebut periode April–Mei juga kerap diwarnai peningkatan kebutuhan valuta asing di dalam negeri. Permintaan valas antara lain berasal dari kebutuhan korporasi untuk repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan devisa bagi keberangkatan jemaah haji.

Di sisi lain, kinerja ekonomi domestik pada awal tahun tercatat kuat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disoroti media keuangan Bloomberg, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61% (year on year). Laju tersebut disebut melampaui kinerja beberapa ekonomi besar dunia pada periode yang sama.

Sejumlah indikator turut mengiringi capaian tersebut. Inflasi tercatat melandai menjadi 2,4% dari 3,48% pada Maret 2026. Penyaluran kredit juga tumbuh 9,49%, mencerminkan aktivitas sektor riil yang tetap bergerak. Dari sisi eksternal, neraca ekspor-impor disebut masih surplus, ditopang cadangan devisa yang memadai.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah menyiapkan langkah-langkah untuk menjaga momentum ekspansi. Ia menegaskan arah ekonomi nasional memasuki fase ekspansi yang lebih kuat dibanding capaian sebelumnya di angka 5,39%.

Salah satu strategi yang disiapkan adalah diversifikasi sumber pembiayaan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Pemerintah berencana menerbitkan Panda Bonds, yakni surat utang berdenominasi yuan yang diterbitkan di pasar Tiongkok.

“Kami akan menerbitkan obligasi dalam bentuk Panda Bonds untuk mendapatkan tingkat suku bunga yang lebih kompetitif. Langkah ini strategis untuk memperkuat stabilitas nilai tukar melalui diversifikasi portofolio pembiayaan kita,” kata Purbaya.

Untuk menopang kinerja pada kuartal berikutnya, pemerintah dijadwalkan merilis paket stimulus tambahan pada 1 Juni 2026. Sinergi BI dan Kementerian Keuangan dalam menjaga likuiditas pasar disebut menjadi salah satu kunci agar target pertumbuhan ekonomi tahunan tetap berada pada jalur yang diharapkan.

Dengan kombinasi indikator domestik yang kuat dan kebijakan lanjutan yang disiapkan, otoritas menilai gejolak nilai tukar saat ini bersifat sementara di tengah upaya menjaga stabilitas dan memperkuat ekspansi ekonomi.