Porsi energi terbarukan dalam bauran energi dan kelistrikan global terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Isu ini menjadi perhatian banyak negara untuk mengendalikan perubahan iklim, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, serta menjaga pasokan energi jangka panjang. Namun, cara tiap negara mendorong transisi ini berbeda-beda, dipengaruhi kondisi geografis, kebijakan, struktur ekonomi, dan penerimaan sosial.
Dalam menilai kemajuan energi terbarukan, perbandingan tidak selalu sederhana. Pangsa energi terbarukan bisa dihitung dari pembangkitan listrik bruto, konsumsi listrik bruto, atau konsumsi energi total yang mencakup listrik, panas, dan bahan bakar. Sebuah negara dapat memiliki pangsa listrik terbarukan yang tinggi, tetapi masih bergantung pada fosil di sektor transportasi atau pemanas. Negara yang sejak lama mengandalkan tenaga air cenderung lebih tinggi pangsa terbarukannya di sektor listrik, sementara negara dengan porsi nuklir besar dapat memiliki emisi sektor listrik yang lebih rendah namun insentif ekspansi angin dan surya berbeda.
Di tengah perbedaan itu, sejumlah negara besar menempuh jalur yang menonjol. Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir tampil sebagai pemimpin global dalam perluasan energi terbarukan, didorong permintaan energi yang tinggi seiring pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi. Tenaga angin dan surya menjadi inti strateginya, disertai ekspansi pembangkit listrik tenaga air. Latar belakang pentingnya adalah upaya menekan konsumsi batu bara yang berkontribusi pada polusi udara di kota-kota besar. Meski fosil masih berperan besar, porsi energi terbarukan dalam pembangkitan listrik Tiongkok terus meningkat.
Di luar pembangkitan listrik, Tiongkok juga menyiapkan langkah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan ke sektor lain, termasuk rencana integrasi hidrogen hijau untuk mendekarbonisasi proses industri dan, ke depan, sebagian transportasi. Pada saat yang sama, negara ini meningkatkan kapasitas produksi sel surya dan turbin angin sehingga bukan hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memperkuat posisinya dalam perdagangan global teknologi energi terbarukan.
Amerika Serikat mengalami perubahan yang disebut sebagai pergeseran struktural, meski secara historis produksi energinya lama bergantung pada minyak, gas alam, dan batu bara. Sejumlah negara bagian seperti California, Texas, Iowa, dan New York memperluas energi angin dan surya lewat kebijakan dan regulasi yang ambisius. Bentang alam energi pun berubah, misalnya melalui perluasan ladang angin di Texas dan meningkatnya pemasangan sistem surya di wilayah gurun California maupun atap-atap kota.
Namun, arah kebijakan di tingkat federal dinilai dapat memengaruhi laju transisi. Para pengamat menilai perubahan strategi di Gedung Putih berpotensi memperlambat atau menghentikan sebagian kemajuan, terutama bila kebijakan lebih condong pada kepentingan ekonomi jangka pendek dan sumber energi konvensional. Dalam konteks ini, modernisasi jaringan listrik yang terfragmentasi, penguatan riset dan pengembangan, serta dukungan untuk teknologi penyimpanan dan hidrogen menjadi aspek penting bagi kelanjutan ekspansi energi terbarukan.
Jepang menempuh jalur yang berbeda. Setelah bencana nuklir Fukushima pada 2011, skeptisisme publik terhadap tenaga nuklir meningkat dan mendorong perubahan kebijakan energi. Jepang memperluas proyek surya dan angin dengan dukungan pemerintah, tetapi tidak sepenuhnya menghentikan nuklir. Negara ini berupaya menyeimbangkan bauran energi: energi terbarukan diperluas, sementara sebagian pembangkit nuklir tetap beroperasi untuk mengurangi risiko kekurangan pasokan dan ketergantungan impor. Jepang juga menekankan efisiensi energi, serta menghadapi tantangan integrasi energi terbarukan pada sistem jaringan listrik kepulauan yang tersebar dan memiliki karakter historis berbeda.
Di Eropa, Uni Eropa selama bertahun-tahun dikenal mendorong target iklim dan perluasan energi terbarukan melalui strategi, standar, dan mekanisme dukungan bersama. Meski begitu, perbedaan antarnegara tetap besar. Ada negara yang bertumpu pada tenaga air, ada yang mengandalkan angin atau matahari, dan posisi energi nuklir pun beragam—Perancis masih kuat dengan nuklir, sementara Jerman meninggalkan teknologi tersebut. Secara umum, pangsa energi terbarukan di Eropa meningkat, tetapi tantangan besar masih ada, terutama untuk mendekarbonisasi pemanas dan mobilitas.
Jerman kerap disebut contoh paling dikenal dalam transisi energi di Eropa. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Energi Terbarukan, ekspansi angin, surya, dan biomassa berlangsung besar-besaran, disertai peningkatan target secara berkala. Namun, persoalan infrastruktur jaringan tetap krusial karena pusat produksi angin banyak berada di wilayah pesisir, sementara kebutuhan listrik besar terkonsentrasi di wilayah industri selatan. Selain listrik, dorongan juga mengarah pada sektor pemanas dan transportasi, termasuk penilaian terhadap peran hidrogen hijau sebagai media penyimpanan dan transportasi energi untuk industri dan transportasi berat.
Perancis mempertahankan posisi nuklir sebagai tulang punggung ketenagalistrikan, sembari meningkatkan porsi energi terbarukan. Tenaga air memberi kontribusi penting, sementara angin dan surya semakin berkembang. Perancis juga menyiapkan program renovasi bangunan hemat energi untuk menekan kebutuhan panas dan penggunaan fosil. Di sisi lain, terdapat perdebatan mengenai risiko dan biaya pengoperasian reaktor yang menua, meski dukungan sosial terhadap nuklir di Perancis disebut lebih tinggi dibanding beberapa negara Eropa lain.
Spanyol memanfaatkan kondisi iklim yang menguntungkan, terutama potensi surya yang besar, disertai pembangunan ladang angin di wilayah berangin. Selain sektor listrik, perhatian meningkat pada pemanas melalui pompa panas dan panas matahari, serta rencana investasi untuk mobilitas listrik, kereta, dan bus. Pemerintah juga menekankan dimensi sosial agar transisi energi tidak meninggalkan kelompok atau wilayah tertentu, termasuk melalui stimulus ekonomi dan penciptaan lapangan kerja.
Italia menampilkan portofolio energi terbarukan yang beragam. Tenaga air telah lama berperan, sementara surya dan angin meningkat, terutama di wilayah selatan yang cerah, kepulauan, pesisir, dan daerah pegunungan. Italia juga memiliki fokus pada panas bumi, khususnya di Tuscany, serta proyek awal untuk menguji energi pasang surut atau gelombang. Di sisi permintaan, program renovasi bangunan hemat energi dan insentif untuk panel surya serta pompa panas menjadi bagian dari upaya mengurangi konsumsi fosil dan meningkatkan ketahanan energi.
Perbedaan capaian antarnegara dalam energi terbarukan umumnya dipengaruhi beberapa faktor. Kondisi geografis—seperti intensitas matahari, keandalan angin, dan potensi tenaga air—dapat menurunkan biaya dan mempermudah implementasi. Faktor politik juga menentukan, misalnya melalui model pendanaan, feed-in tariff, maupun pengetatan aturan terhadap energi fosil. Kondisi ekonomi turut berperan ketika sebuah negara membangun kekuatan ekspor teknologi terbarukan, seperti turbin angin, modul surya, atau penyimpanan baterai. Penerimaan sosial juga menjadi variabel penting karena penolakan terhadap proyek di darat dapat memperlambat ekspansi.
Selain itu, inovasi teknologi semakin menentukan keberhasilan transisi. Penyimpanan energi diperlukan untuk mengimbangi fluktuasi produksi angin dan surya agar jaringan tetap stabil. Hidrogen hijau dipandang sebagai opsi untuk membawa listrik bebas emisi ke sektor yang sulit dielektrifikasi, seperti industri tertentu, transportasi berat, dan pelayaran. Sejumlah negara juga meneliti sumber alternatif seperti pasang surut, gelombang, atau osmosis yang masih banyak berada pada tahap proyek percontohan.
Di balik tren positif, tantangan besar tetap muncul, terutama keterbatasan infrastruktur jaringan listrik di banyak negara. Pembangunan jalur baru kerap menghadapi persoalan penerimaan publik dan biaya investasi. Di tingkat global, transisi energi juga memunculkan dimensi geopolitik baru: ketergantungan pada minyak dan gas dapat berkurang, tetapi kebutuhan bahan mentah seperti litium, kobalt, dan logam tanah jarang untuk baterai dan teknologi surya dapat menciptakan ketergantungan baru. Karena itu, isu rantai pasok, kemitraan strategis, dan konsep daur ulang ikut mengemuka.
Meski strategi dan kecepatannya berbeda, arah umum dunia bergerak menuju energi terbarukan. Tiongkok menonjol lewat proyek berskala besar dan penguatan industri manufaktur teknologi, Amerika Serikat bertumpu pada dinamika negara bagian, insentif, serta inovasi, Jepang menyeimbangkan energi terbarukan dengan nuklir dan efisiensi, sementara Eropa mendorong target bersama dengan variasi pendekatan nasional. Ke depan, modernisasi jaringan, pengembangan penyimpanan, pemanfaatan hidrogen, serta penguatan sektor transportasi dan pemanas menjadi kunci agar transisi energi tidak berhenti di sektor listrik saja.
Kerja sama internasional juga dinilai penting karena perubahan iklim tidak mengenal batas negara. Pertukaran pengalaman mengenai kebijakan, teknologi, dan partisipasi sosial dapat mempercepat pembelajaran lintas wilayah. Pada akhirnya, ekspansi energi terbarukan dipandang akan terus mengubah cara dunia memproduksi dan mengonsumsi energi, dengan tantangan yang perlu dikelola seiring peluang ekonomi dan teknologi yang terbuka.

