Dunia menghadapi situasi yang kian tidak menentu, dengan krisis datang silih berganti tanpa banyak peringatan. Setelah pandemi global beberapa tahun lalu, konflik internasional dan kenaikan harga minyak kembali menekan perekonomian serta berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat.
Dalam konteks ini, Bekerja dari Rumah (BDR) dan Pengajaran dan Pembelajaran di Rumah (PdPr)—dua pendekatan yang pernah menjadi tumpuan saat pandemi—kembali dinilai relevan. Lonjakan biaya bahan bakar membuat mobilitas ke tempat kerja dan sekolah menjadi beban bagi banyak pihak, sehingga muncul pertanyaan apakah BDR dan PdPr dapat menjadi mekanisme adaptasi jangka panjang.
Krisis minyak yang dipicu konflik geopolitik telah meningkatkan biaya logistik dan transportasi. Penerapan BDR dan PdPr dipandang dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil karena berkurangnya pergerakan fisik. Selain berpotensi menekan penggunaan minyak, pendekatan ini juga disebut dapat memberi kontribusi terhadap kelestarian lingkungan.
Dari sisi ekonomi rumah tangga, BDR dianggap memberi kelegaan bagi pekerja karena mengurangi kebutuhan perjalanan harian. Penghematan biaya bahan bakar dinilai dapat membantu meredam tekanan akibat kenaikan harga barang yang tidak menentu. Di sisi lain, pemberi kerja juga berpeluang menghemat biaya operasional, seperti utilitas, perawatan kantor, dan pengeluaran lain yang terkait dengan penggunaan ruang kerja.
Namun, tidak semua sektor dinilai cocok menerapkan BDR. Pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik—seperti sektor manufaktur, produksi, layanan fisik, dan operasi lapangan—tetap bergantung pada aktivitas di lokasi. Karena itu, pemerintah disebut perlu mempertajam metode ini sebagai bagian dari penguatan dan perapian pengaturan kerja fleksibel, terutama saat krisis global.
Di bidang pendidikan Malaysia, PdPr dipandang berperan menjaga keberlangsungan pembelajaran ketika situasi tidak stabil. Dalam kondisi konflik yang mengganggu stabilitas suatu negara atau kawasan, pendidikan kerap terdampak, termasuk penutupan sekolah dan terganggunya akses belajar. PdPr memungkinkan proses belajar tetap berjalan, meski tantangannya tidak ringan.
Salah satu kendala utama adalah kesenjangan digital, terutama di kawasan pedesaan atau pada keluarga berpendapatan rendah, yang dapat menyulitkan pelaksanaan PdPr. Karena itu, investasi infrastruktur digital dinilai perlu ditingkatkan, termasuk penyediaan internet yang terjangkau serta perangkat bagi siswa yang membutuhkan. Pelatihan bagi guru juga dipandang penting agar pembelajaran jarak jauh dapat dikelola lebih efektif dan interaktif dalam berbagai situasi krisis.
Meski memiliki manfaat, BDR dan PdPr juga dinilai tidak bisa dijalankan tanpa memperbaiki kelemahan yang ada. Isu kesehatan mental menjadi salah satu perhatian, karena terlalu lama berada di rumah dan minim interaksi sosial dapat memicu stres, kesepian, serta penurunan motivasi. Pada pekerja, tekanan pekerjaan, beban tugas, dan ketidakseimbangan kehidupan kerja juga disebut berpotensi berdampak pada kesejahteraan mental.
Tantangan praktis di lapangan turut menjadi sorotan, seperti rapat daring dengan akses internet tidak stabil atau gangguan suara di rumah. Kondisi rumah tidak selalu kondusif untuk bekerja, sehingga kesiapan mental dan fisik diperlukan untuk menghadapi hambatan dalam pelaksanaan BDR.
Pada akhirnya, konflik dan kenaikan harga minyak mungkin berada di luar kendali masyarakat. Namun, cara merespons krisis tersebut dapat ditentukan melalui pilihan kebijakan dan adaptasi. BDR dan PdPr dipandang bukan sekadar alternatif sementara, melainkan berpotensi menjadi strategi penting untuk menjaga keberlangsungan hidup dan kesejahteraan masyarakat di tengah ketidakpastian, dengan pemanfaatan teknologi secara bijak.