Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik (East Asia and Pacific/EAP) akan melambat pada 2026, seiring eskalasi konflik di Timur Tengah serta melemahnya pertumbuhan di China dan sejumlah negara lain di kawasan tersebut.
Chief Economist of the East and Pacific Region World Bank, Aaditya Mattoo, mengatakan sebagian besar negara di kawasan EAP diperkirakan mencatat pertumbuhan yang lebih rendah pada 2026 dibandingkan 2025. Namun, ia menilai terdapat peluang pemulihan pada 2027 apabila berbagai tekanan yang membebani pertumbuhan mulai mereda, meski tidak sepenuhnya hilang.
Dalam proyeksi Bank Dunia, pertumbuhan ekonomi kawasan EAP diperkirakan berada di kisaran 5,0% pada 2025, kemudian turun menjadi 4,2% pada 2026, sebelum kembali naik ke sekitar 4,5% pada 2027.
Perlambatan juga tercermin pada proyeksi China. Pertumbuhan ekonomi negara tersebut diperkirakan turun dari sekitar 5% pada 2025 menjadi 4,2% pada 2026, lalu sedikit meningkat ke kisaran 4,3% pada 2027.
Sementara itu, Indonesia diproyeksikan relatif stabil. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,1% pada 2025, sedikit turun menjadi 4,7% pada 2026, dan kembali naik ke sekitar 5,2% pada 2027.
Mattoo menyebut ada tiga faktor utama yang memengaruhi prospek pertumbuhan di kawasan tersebut, yaitu konflik di Timur Tengah, berlanjutnya pembatasan perdagangan, serta tingginya ketidakpastian kebijakan. Dua faktor pertama dinilai menjadi tekanan negatif yang signifikan mengingat tingginya ketergantungan kawasan terhadap energi dan perdagangan.
Di sisi lain, perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) disebut sebagai faktor positif secara global. Namun, Mattoo menyampaikan kekhawatiran bahwa kawasan Asia Timur dan Pasifik, meski sangat terpapar dampak negatif, belum sepenuhnya siap memanfaatkan peluang dari perkembangan tersebut.
Bank Dunia juga menilai kawasan ini masih memiliki ruang untuk menentukan arah pertumbuhannya melalui kebijakan makroekonomi yang tepat, termasuk dukungan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam jangka pendek, serta reformasi struktural yang lebih dalam untuk memungkinkan pemulihan dari krisis, sebagaimana yang dinilai telah berhasil dilakukan pada krisis-krisis sebelumnya.
Dari sisi risiko, Bank Dunia mencatat meningkatnya risiko geopolitik seiring lonjakan harga minyak dan gas. Proyeksi pasar berjangka menunjukkan harga minyak berpotensi meningkat hingga USD 20 dalam satu tahun ke depan dibandingkan sebelum krisis saat ini.
Mattoo menuturkan dampak terhadap kawasan diperkirakan terjadi melalui berbagai saluran, mulai dari kenaikan biaya produksi seperti energi, pupuk, dan pangan; gangguan rantai pasok akibat hambatan jalur pelayaran dan meningkatnya biaya transportasi; hingga tekanan pada sektor industri seperti semikonduktor yang dapat merambat ke seluruh rantai produksi.
Selain itu, pengetatan kondisi pembiayaan, pelebaran spread, meningkatnya aliran dana ke aset aman, serta kenaikan biaya pinjaman dinilai berpotensi menahan investasi. Ketidakpastian yang tinggi, melemahnya sentimen bisnis, serta rendahnya investasi juga diperkirakan akan menekan pertumbuhan global.
Mattoo juga menyinggung potensi dampak pada negara-negara yang bergantung pada remitansi. Ia menyebut Filipina berpotensi terdampak apabila aliran remitansi dari kawasan Teluk menurun, mengingat kontribusinya mencapai sekitar 1,5% terhadap PDB.