BERITA TERKINI
Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur-Pasifik Diproyeksikan Melambat akibat Lonjakan Harga Energi

Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Asia Timur-Pasifik Diproyeksikan Melambat akibat Lonjakan Harga Energi

Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik akan melambat dalam periode mendatang, seiring eskalasi geopolitik internasional yang mendorong kenaikan harga energi global.

Dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik yang dirilis Rabu (8/4/2026), Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kawasan turun menjadi 4,2 persen pada 2026.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, menyatakan konflik di Timur Tengah—terutama konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran—menjadi pemicu utama kenaikan harga energi dunia yang kemudian menekan laju ekonomi kawasan.

Menurut Bank Dunia, lonjakan harga energi memperkuat hambatan dalam perdagangan, menambah ketidakpastian kebijakan internasional, serta meningkatkan tantangan domestik di sejumlah negara.

Bank Dunia juga memperkirakan kenaikan harga bahan bakar hingga 50 persen berpotensi memangkas pendapatan masyarakat sebesar 3–4 persen, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor energi.

“Dukungan yang terukur bagi masyarakat dan perusahaan dapat menyelamatkan lapangan kerja saat ini, sementara menghidupkan kembali reformasi struktural yang tertunda dapat memicu pertumbuhan di masa depan,” ujar Mattoo.

Laporan tersebut mencatat kenaikan tajam harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah sejak 28 Februari. Indeks acuan gas alam dilaporkan naik hingga 90 persen, sementara harga minyak mentah melonjak lebih dari 30 persen.

Bank Dunia menyoroti kawasan Timur Tengah sebagai pemasok penting sejumlah komoditas, termasuk pupuk, aluminium, dan petrokimia. Qatar dan Arab Saudi disebut menyokong lebih dari 10 persen ekspor pupuk nitrogen dunia.

Bank Dunia menilai dampak kenaikan harga energi terhadap negara-negara Asia Timur dan Pasifik akan bergantung pada tingkat keterpaparan masing-masing, kerentanan ekonomi, serta kebijakan yang diambil untuk merespons tekanan tersebut.

Negara-negara kepulauan Pasifik seperti Fiji, Mikronesia, Tonga, dan Vanuatu dinilai paling rentan. Thailand dan Mongolia, yang sangat bergantung pada impor energi, juga berpotensi menghadapi tekanan ekonomi dan keterbatasan fiskal.

Sementara itu, negara-negara dengan penopang ekonomi yang lebih kuat seperti Kamboja, Vietnam, dan Indonesia dinilai memiliki daya tahan lebih besar dalam menghadapi guncangan, didukung cadangan energi strategis, kapasitas kilang domestik, serta penerimaan ekspor komoditas yang dapat menyeimbangkan impor.