Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR Said Abdullah meminta masyarakat tidak panik menghadapi dinamika ekonomi global yang menguat dalam beberapa waktu terakhir. Ia menilai kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 masih berada dalam posisi yang relatif aman.
Said menyebut salah satu indikatornya adalah pergerakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang, berdasarkan perhitungan dari Januari hingga 9 Maret, rata-rata masih berada di bawah asumsi makro dalam APBN. Karena itu, ia meminta publik tidak bereaksi berlebihan terhadap situasi yang berkembang.
Menurut Said, dinamika ekonomi yang ramai diperbincangkan sejak akhir Januari dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Ia menyinggung penilaian dari lembaga keuangan internasional serta situasi geopolitik global, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah.
Ia juga menilai konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berpotensi memicu efek rambatan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Meski demikian, Said mengatakan pemerintah bersama otoritas keuangan telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
“Sejak awal kita sudah mulai berbenah. Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia juga sudah melakukan komunikasi yang intensif untuk menjaga stabilitas pasar,” ujarnya.
Said menambahkan, bila merujuk pada asumsi makro dalam APBN 2026, kondisi perekonomian nasional sejauh ini masih berada dalam batas yang terkendali. Namun ia mengakui adanya tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dapat berdampak pada defisit anggaran.
Ia menjelaskan, setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp100 terhadap dolar AS berpotensi menambah defisit APBN sekitar Rp800 miliar. Said juga menyinggung perubahan outlook peringkat utang dari stabil menjadi negatif, meski peringkatnya disebut tetap dan pemerintah menunggu perkembangan berikutnya pada Mei.

