Gelaran Lenovo Tech World 2026 di Hong Kong menyoroti perubahan arah pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia-Pasifik. Dalam sesi roundtable bersama jajaran eksekutif Lenovo, dibahas bahwa banyak organisasi di wilayah ini dinilai telah melewati tahap eksperimen dan mulai berlomba mengoperasionalisasikan AI skala perusahaan (enterprise AI) untuk mendorong pertumbuhan bisnis.
Diskusi menekankan pergeseran fokus dari sekadar uji coba atau proof of concept menuju penerapan AI yang berdampak langsung pada operasional dan strategi bisnis. Tantangan yang mengemuka bukan lagi soal apakah AI dapat bekerja, melainkan bagaimana AI dapat diskalakan agar memberikan keuntungan nyata.
Matt Codrington, Vice President dan General Manager Lenovo Greater Asia Pacific, menyatakan AI kini menjadi prioritas utama para pemimpin bisnis di kawasan. Ia merujuk temuan CIO Playbook 2026 yang menunjukkan bahwa CIO dan CEO memandang AI sebagai kunci pertumbuhan yang substansial, bukan semata peningkatan efisiensi.
Dalam paparan tersebut, disebutkan tren investasi yang kuat: 96% organisasi di Asia-Pasifik berencana meningkatkan anggaran AI pada 2026, dengan pertumbuhan setidaknya 15% dari tahun ke tahun. Kepercayaan ini disebut didukung oleh rata-rata pengembalian investasi (ROI) saat ini yang mencapai USD2,85 untuk setiap dolar yang diinvestasikan.
Menjawab kebutuhan skalabilitas, Art Hu, SVP Global CIO Lenovo sekaligus Chief Technology dan Delivery Officer SSG, memperkenalkan kerangka kerja Hybrid AI Advantage. Menurutnya, strategi ini dirancang untuk mengatasi hambatan yang kerap muncul saat perusahaan memperluas implementasi AI.
Art Hu menjelaskan Lenovo menyiapkan infrastruktur modular yang disebut Hybrid AI Factory, mencakup AI PC di tangan pengguna, AI di edge untuk pemrosesan data waktu nyata, hingga pusat data skala besar di cloud.
Ia menekankan pendekatan AI hibrida yang menggabungkan data publik dan data internal perusahaan yang aman. Aspek ini dinilai penting untuk menjawab kebutuhan privasi, keamanan, dan kepatuhan regulasi, yang disebut menjadi perhatian utama 88% CIO di Asia-Pasifik.
Tren lain yang menjadi sorotan adalah meningkatnya minat terhadap Agentic AI, yakni sistem yang tidak hanya menganalisis tetapi juga mampu mengambil tindakan secara mandiri dalam batasan tertentu. Linda Yao, Vice President & General Manager Hybrid Cloud & AI Solutions Lenovo SSG, mengatakan ketertarikan terhadap agen AI meningkat dua kali lipat dalam satu tahun terakhir. Menurutnya, fokus kini bergeser dari sistem yang hanya menjawab pertanyaan menjadi agen yang dapat mengelola proses bisnis secara end-to-end.
Lenovo turut memaparkan contoh penggunaan teknologi tersebut. Di bidang olahraga, perusahaan ini disebut membantu FIFA membangun pusat komando cerdas yang mengintegrasikan data operasional stadion dengan analisis perilaku penggemar global secara waktu nyata.
Di internal perusahaan, Lenovo menggunakan agen AI super bernama iChain untuk mengelola rantai pasok globalnya. Sistem ini disebut memungkinkan koordinasi dengan ribuan pemasok setiap detiknya.

