BERITA TERKINI
ASEAN dan Australia Tekankan Peran Pemuda dalam Pencegahan Radikalisasi dan Ekstremisme Kekerasan

ASEAN dan Australia Tekankan Peran Pemuda dalam Pencegahan Radikalisasi dan Ekstremisme Kekerasan

ASEAN dan Australia menegaskan pentingnya peran pemuda sebagai aktor kunci dalam menjaga perdamaian dan keamanan kawasan melalui penguatan kapasitas pencegahan radikalisasi dan ekstremisme kekerasan. Komitmen tersebut mengemuka dalam ASEAN-Australia Counter-Terrorism Workshop On Good Practice Approaches To Empower Youth And Enhance Their Capacity To Prevent The Rise Of Radicalisation And Violent Extremism yang digelar pada 26–27 November 2025 di Bali.

Direktur Regional dan Multilateral Dionnisius Elvan Swasono menyatakan lokakarya ini menjadi pengingat bahwa pemuda tidak semata menjadi penerima manfaat program. “Kolaborasi ini telah mengingatkan kita bahwa pemuda bukan hanya penerima manfaat dari program kita. Mereka adalah mitra, inovator, dan aktor kunci dalam menjaga perdamaian dan keamanan kawasan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, ia menyampaikan komitmen Indonesia dan Australia sebagai co-chairs untuk menyusun Compilation of Good Practices Guiding Principles on Empowering and Enhancing Youth Capacity on PCVE. Dokumen tersebut ditujukan untuk mendukung negara-negara anggota ASEAN dalam memperkuat kebijakan dan program penanggulangan ekstremisme kekerasan yang inklusif bagi pemuda serta berbasis pemahaman digital.

Penguatan kolaborasi kawasan juga menjadi sorotan dalam rangka menghadapi tantangan radikalisasi digital. Plh. Kepala Biro Hubungan Internasional Divhubinter Polri, Brigjen Pol. Oktavianus Marthin, yang mewakili Kabareskrim Polri selaku Ketua SOMTC Indonesia, menekankan pentingnya peran pemuda di kawasan dalam upaya bersama mencegah radikalisasi dan ekstremisme berbasis kekerasan.

Sementara itu, Duta Besar Australia untuk isu Penanggulangan Terorisme Gemma Huggins mengapresiasi kepemimpinan Indonesia dalam memperkuat kerja sama penanggulangan terorisme di ASEAN serta menegaskan komitmen jangka panjang Australia sebagai Mitra Dialog pertama ASEAN. Ia juga menilai kerja sama regional semakin krusial seiring perkembangan teknologi yang memengaruhi proses radikalisasi. “Kolaborasi di kawasan menjadi sangat penting karena ekstremisme kekerasan yang berkembang dipicu oleh teknologi dan proses radikalisasi digital,” katanya.

Lokakarya ini diikuti 125 peserta dan narasumber yang mewakili badan sektoral atau entitas ASEAN terkait, organisasi internasional, serta organisasi masyarakat sipil. Kegiatan tersebut mengusung sembilan tema utama yang mencerminkan prioritas kawasan dalam memperkuat pencegahan radikalisasi dan ekstremisme kekerasan di kalangan pemuda, mulai dari tren radikalisasi terbaru, pendekatan nasional dalam pemberdayaan pemuda, hingga penguatan kapasitas kepemimpinan melalui Leadership Skills Lab.