Menteri Dalam Negeri Amerika Serikat Doug Burgum menegaskan komitmen negaranya untuk menyediakan pasokan energi yang “andal, terjangkau, dan aman” bagi kawasan Asia-Pasifik, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu arus minyak dan gas melalui Selat Hormuz.
Pernyataan itu disampaikan Burgum pada 14 Maret dalam sebuah forum energi di Tokyo, Jepang, yang dihadiri perwakilan dari 17 negara. Ia mengatakan kebijakan energi Presiden Donald Trump diarahkan untuk memastikan kemakmuran di dalam negeri sekaligus mempertahankan kemampuan AS mengekspor energi kepada mitra dan sekutu. Menurut Burgum, pasokan dari AS dapat membantu negara-negara di kawasan mengurangi risiko gangguan akibat ketidakstabilan geopolitik.
Selain isu minyak dan gas, Burgum juga menyoroti pentingnya pengamanan pasokan mineral penting seperti litium dan kobalt. Ia menyinggung upaya banyak negara untuk menurunkan ketergantungan pada China, yang disebut sebagai eksportir utama di sektor tersebut.
Dalam forum yang sama, negara-negara peserta—termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Thailand—diperkirakan akan mengumumkan sedikitnya US$30 miliar dalam kesepakatan energi dan mineral dengan Amerika Serikat. Jepang, yang bergantung pada Timur Tengah untuk sekitar 95% impor minyaknya, juga telah menandatangani nota kesepahaman dengan AS untuk membiayai bersama proyek-proyek infrastruktur strategis di pasar negara berkembang.
Di sektor tenaga nuklir, Hitachi dari Jepang dan GE Vernova dari AS sepakat menjajaki peluang pembangunan reaktor modular kecil (small modular reactor/SMR) di Asia Tenggara. Sementara itu, perusahaan AS Venture Global menandatangani kontrak jangka panjang untuk memasok 1,5 juta ton gas alam cair kepada anak perusahaan Hanwha Group dari Korea Selatan.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik rawan utama bagi perdagangan energi global. Menurut data Bloomberg, sekitar 16,7 juta barel minyak mentah dan kondensat diperkirakan diangkut melalui jalur tersebut setiap hari pada 2025. Jalur ini juga penting bagi perdagangan pupuk global, sehingga gangguan di Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan biaya energi, biaya transportasi, dan harga pangan.
Di sisi pasokan global, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan pasokan minyak dunia pada bulan ini dapat turun sekitar 8 juta barel per hari menjadi 98,8 juta barel per hari. Namun, sebagian penurunan itu diperkirakan dapat diimbangi oleh pemulihan produksi di Amerika Utara serta pemulihan pasokan dari Kazakhstan dan Rusia.

